Coretan Tengah Malam: Menjawab Pertanyaan Teman Terkait Perang Sipil Suriah

Beberapa hari belakangan ini beberapa teman tiba-tiba bertanya mengenai konflik di Suriah kepada saya. Mungkin mereka bertanya karena kapasitas saya sebagai lulusan jurusan Hubungan Internasional. Secara jujur sudah agak lama saya tidak menyentuh berita-berita terbaru mengenai kasus Suriah, setidaknya hanya memperbaharui sedikit saja. Saya pun akhirnya berusaha menjawab dengan pengetahuan yang saya miliki berdasarkan apa yang saya berusaha gali selama skripsi S1. Sedikit gambaran, ketika skripsi S1 saya membahas mengenai konflik asimetris di Suriah, yakni spesifiknya mengenai mengapa kelompok oposisi di Suriah dapat memenangkan suatu pertempuran.

Pertanyaan terbanyak yang saya dapatkan adalah:

Apakah benar rezim Bashar Al-Assad melakukan pembantaian terhadap masyarakat di Aleppo?

Argumen utama saya adalah:

Tidak, karena memang pada dasarnya di Aleppo sedang terjadi perang antara beberapa pihak dan yang dilakukan oleh Assad adalah perlawanan terhadap musuhnya.

Mungkin jawaban saya ini terdengar ekstrim bagi beberapa orang dan seakan saya tidak mempedulikan nilai kemanusiaan. Namun berikut adalah beberapa penjelasan dari argumen tersebut.

Pertama, kelompok oposisi banyak yang memanfaatkan pemukiman penduduk untuk bersembunyi dan melakukan serangan. Kelompok oposisi memanfaatkan strategi urban warfare sehingga mereka dapat berkamuflase diantara para penduduk dan juga membuat lawannya berada pada posisi yang dilematis. Jika mengikuti etika perang, maka pasukan militer hanya boleh menyerang combatant dan tidak boleh menyerang non-combatant yang dalam hal ini misalnya adalah masyarakat sipil.

Salah satu contoh yang membuat pilihan sulit ketika misal pasukan rezim ingin menyerang musuh namun musuh bersembunyi di rumah sakit. Begitu pula misalnya Amerika Serikat ingin menyerang pasukan ISIS namun mereka bersembunyi di sebuah sekolah. Pilihan apa yang harus dilakukan? Idealnya memang bukan dengan airstrikes tapi mungkin dengan penggerebekan langsung untuk menekan jumlah korban sipil namun itupun belum tentu tanpa korban.

Jika anda mengikuti serial Designated Survivor, maka akan terlihat dalam salah satu episode Presiden Kirkman harus mengubah pilihan airstrikes menjadi penggerebekan langsung oleh US Navy Seal karena pasukan musuh bersembunyi di bawah rumah sakit.

Kedua, mengapa pasukan oposisi memilih bersembunyi di tempat masyarakat sipil? Secara kekuatan, oposisi lebih lemah dibandingkan dengan kekuatan rezim atau asimetris. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh oposisi untuk tetap bertahan adalah dengan memanfaatkan bantuan dari masyarakat sipil dan juga aliansi. Bantuan dari masyarakat sipil didapatkan dengan menarik simpati mereka dan membuat anggapan bahwa pasukan rezim tidak dapat memberikan apa yang mereka butuhkan. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan perlindungan terhadap masyarakat sipil dan membuat kondisi dimana rezim seakan menyerang masyarakat sipil. Dengan oposisi bersembunyi di tempat masyarakat sipil, maka rezim pun terkondisikan seakan menyerang masyarakat sipil. Padahal pada dasarnya target utama rezim adalah pasukan musuh yang dikonsiderasikan sebagai combatant. Pada akhirnya, oposisi pun berhasil merebut simpati masyarakat sipil dan memperkuat upaya mereka untuk bertahan dan mencapai tujuan politiknya.

Penjabaran ini hanya sekadar pemaparan kalkulasi strategis untuk pihak oposisi.

Pertanyaan kedua yang kerap ditanyakan adalah:

Mengapa Perang Sipil Suriah sulit untuk diselesaikan?

Menurut saya, kompleksitas aktor yang terlibat dalam Perang Sipil Suriah membuat perang ini sulit diselesaikan. Pihak yang berperang bukan hanya rezim dan oposisi namun juga aktor eksternal lainnya, seperti Amerika Serikat dan Rusia. Terlalu banyak kepentingan yang bermain dan semua berusaha untuk mencapai kepentingan masing-masing.

Berdasarkan strategic culture dari Amerika Serikat, AS selalu ingin melihat dunia berdasarkan standar yang mereka miliki atau disebut juga American Standard. Jika ada suatu penyimpangan maka mereka tidak akan tinggal diam. Kultur mereka pun cukup ambisius dan selalu haus pencapaian. Posisi AS sebagai pemegang kekuatan global membuat AS melihat penyimpangan yang terjadi di Suriah dapat mengancam posisi mereka. Jika mereka tidak ikut campur, maka hasil akhir dari Perang Sipil Suriah akan didiktat oleh Rusia. Selain itu, Perang Sipil Suriah memberikan ruang bagi kelompok teroris untuk berkembang dan nantinya justru menjadi ancaman global lebih besar.

Suriah juga sudah menjadi aliansi kuat bagi Rusia di Timur Tengah sejak lama. Suriah juga menjadi salah satu pemasok terbesar senjata dari Rusia. Rusia kehilangan kontrak persenjataan senilai 4 triliun dolar akibat Perang di Libya dan mereka tak ingin mengulangnya lagi di Suriah. Suriah juga merupakan lokasi dari salah satu basis militer Rusia, yakni Pelabuhan Tartus. Dengan kebijakan Presiden Putin untuk ekspansi kekuatan maritimnya maka mereka pun tak akan membiarkan pelabuhan tersebut hilang dari kekuasaan mereka. Sentimen untuk menghentikan dominasi Amerika pun juga menjadi salah satu alasan keterlibatan Rusia.

Untuk pihak rezim, jelas mereka akan berusaha melakukan apapun untuk melanggengkan kekuasannya. Sementara pasukan oposisi, mereka akan terus berusaha menggulingkan pihak rezim dan mendirikan negara sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Keinginan mengenai bentuk pemerintahan ideal bagi Suriah dari pihak rezim pun berbeda-beda. Hal tersebut dikarenakan kompleksitas elemen dari pihak rezim, terdapat kelompok yang nasionalis dan terdapat pula kelompok Islamis.

Perjanjian semacam gencatan senjata sebenarnya sudah pernah diupayakan. Pada Februari 2016, Rusia dan Amerika Serikat menyepakati Cessation of Hostilities untuk menghentikan pertempuran sementara demi pemberian bantuan kepada masyarakat yang terisolir dan mengusahakan pihak rezim dan oposisi untuk kembali bernegosiasi. Namun kesepakatan tersebut tidak berjalan efektif karena pihak-pihak yang terlibat akhirnya tetap melakukan serangan.

Alasan mengapa mereka melakukan serangan adalah mereka menyerang pihak oposisi yang tidak termasuk dalam perjanjian tersebut, seperti Jabhat Fateh Al-Sham dan ISIS. Kedua kelompok tersebut tidak termasuk di dalam perjanjian karena dikategorisasikan sebagai kelompok teroris. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kedua kelompok tersebut merupakan kelompok oposisi terkuat di Suriah. Jabhat Fatah Al-Sham memiliki jaringan yang sangat luas diantara oposisi Suriah. Kekuatan yang mereka miliki menjadi daya tarik bagi pasukan oposisi lainnya untuk bekerjasama. Dengan demikian sangat sulit untuk menghentikan serangan jika kawasan-kawasan penting masih dikuasai oleh kedua kelompok tersebut.

Kompleksitas aktor beserta kepentingannya tersebutlah yang membuat konflik pun menjadi berlarut-larut.

Tulisan ini hanya sedikit respon saya untuk menjawab pertanyaan dari teman-teman, namun masih belum komprehensif dan sempurna karena sangat sulit untuk menjelaskan kompleksitas Perang Sipil Suriah hanya dalam satu tulisan pendek saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s