2 Bulan di Singapura: Belajar Menghargai Indonesia, Menjumpai Kejutan, dan Refleksi Kekurangan Diri

Tidak terasa sudah 2 bulan saya berkuliah di Strategic Studies, S. Rajaratnam School of International Studies. Berarti sudah 2 bulan juga saya bekerja sebagai Student Research Assistant di Indonesia Programme, RSIS. Untuk lika-liku proses saya mendapatkan beasiswa dan bisa berkuliah di sini sudah dijelaskan pada postingan sebelumnya. Kali ini saya akan lebih banyak bercerita tentang apa yang sudah saya lalui selama 2 bulan belakangan.

Pastinya menempuh pendidikan master dan sarjana memiliki perbedaan. Walaupun baru saja 2 bulan tapi saya sudah dapat merasakannya, disamping tentunya di sini saya menggunakan bahasa Inggris. Beban perkuliahannya pun tentu saja berbeda pula. Dulu sewaktu kuliah S1, saya masih ingat betul semester 1-5 saya mengambil 24 sks. Tentunya berat dan rasanya kali ini ketika saya mengambil master, 3 mata kuliah saja beratnya sudah minta ampun. Belum lagi ditambah pula dengan berbagai pekerjaan yang perlu saya penuhi sebagai student research assistant. Rasanya saya perlu lebih banyak belajar mengenai time management.

Tapi apakah saya menyesali menempuh pendidikan master? Sejauh ini saya bilang tidak dan saya yakin pernyataan ini tidak akan berubah hingga lulus nanti.

2 bulan yang saya lalui benar-benar membuat saya terbuka dengan hal-hal baru, termasuk minat akademis. Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa saya akan tertarik dengan isu-isu mengenai Indonesia. Ketika S1 dulu, saya relatif jarang menyentuh berita mengenai kondisi perpolitikan Indonesia ataupun hubungan luar negeri Indonesia. Saya lebih banyak membaca berita-berita tentang kawasan Timur Tengah. Al-Jazeera merupakan salah satu kanal berita favorit saya.

Semenjak saya berkuliah di Singapura dan juga menjadi bagian dari Indonesia Programme, saya mulai belajar menghargai Indonesia. Tiap hari mulai membuka berita online dari Kompas, JakartaPost, JakartaGlobe, dan juga berbagai laman berita lainnya. Membaca berita tentang politik lokal, militer, dan tentunya tak lupa isu favorit saya, terorisme. Entah mengapa melihat orang asing begitu “perhatian” dengan Indonesia membuat saya menjadi tak ingin ketinggalan berita dari mereka.

Selain belajar lebih menghargai Indonesia, saya juga belajar mencintai buku dan membaca. Rasanya dulu ketika S1 sangat malas untuk membaca buku dan bahan perkuliahan. Sering kali saya masuk kelas tanpa mengetahui apa yang hendak diajarkan oleh dosen dan siap menerima materi dengan otak yang relatif kosong tanpa fondasi. Tetapi menempuh pendidikan master tentunya tak bisa seperti itu. Jika anda masuk kelas dalam kondisi nihil, niscaya anda akan kebingungan di kelas karena tempo nya yang begitu cepat. Dosen di kelas pun tentunya tak akan mengulang materi yang sudah ada di required reading, mereka hanya akan menjelaskan informasi tambahan atau meluruskan pemahaman kita saja tentang apa yang sudah di baca. Selain itu, tentunya kita harus siap mengimbangi teman-teman sekelas yang beberapa diantaranya sudah berpengalaman dan juga sudah pernah studi master sebelumnya. Jika tidak mau ketinggalan, maka Iqra! 

Berkuliah di RSIS juga memberikan saya kejutan. Kenapa kejutan? Karena terdapat satu mata kuliah yang sebelumnya tak pernah terpikirkan kontennya oleh saya. Pada semester ini kebetulan salah satu mata kuliah yang saya ambil bernama Study of War. Apa yang kalian bayangkan ketika mendengar nama mata kuliah tersebut? Secara pribadi saya berpikir bahwa lebih kurang akan mempelajari sejarah dan taktik perang. Ternyata saya tidak sepenuhnya benar. Memang benar kedua hal tersebut dipelajari, namun penekanan utamanya adalah bagaimana latar belakang, kondisi politik, dan kondisi di medan perang dapat mempengaruhi keputusan seseorang. Kebanyakan teori yang dibahas adalah faktor psikologis manusia. Benar-benar suatu hal yang tak pernah terbayangkan akan saya pelajari di sini.

Sejauh ini saya tentunya masih dalam proses beradaptasi, masih banyak kekurangan dalam diri saya yang belum dapat saya atasi. Salah satu contohnya adalah kemampuan dalam bahasa Inggris, terutama kemampuan berbahasa dan menulis. Sering sekali saya “patah-patah” dalam mengungkapkan pendapat karena bingung akan padanan kata. Sering pula saya menggunakan kata monoton dalam tulisan saya. Perlu banyak belajar dan saya harap proses belajar saya tak akan memakan waktu yang lama.

Ini sedikit cerita dari 2 bulan perjalanan, masih banyak yang belum diceritakan dan tentunya akan diceritakan di lain kesempatan.

 

2 thoughts on “2 Bulan di Singapura: Belajar Menghargai Indonesia, Menjumpai Kejutan, dan Refleksi Kekurangan Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s