Lika-Liku Dapatkan Visa Jepang 90 Hari

Sudah lama tidak menulis di blog ini, kali ini saya akan menuliskan tentang bagaimana lika-liku mendapatkan visa Jepang 90 hari. Singkat cerita saya memang berniat untuk ke Jepang dalam waktu lama, entah itu untuk berlibur atau magang. Alhasil ternyata saya mendapatkan magang selama dua bulan dan pastinya saya butuh visa 90 hari.

Magang di Jepang? Bagaimana caranya?

Untuk bagian ini saya akan ceritakan di postingan lainnya, kali ini saya akan berfokus pada cerita visa. Kenapa lika-liku? Karena saya baru dapat visa H-1 keberangkatan itu pun setelah mendatangi langsung kedutaan.

Kebetulan saya memang sangat mepet waktu mengajukan visa nya, sekitar 1 minggu lebih beberapa hari dari keberangkatan. Tapi mungkin ini juga karena saya yang terlalu santai dan menganggap akan mudah saja mengingat proses pembuatan visa hanya memakan waktu 4 hari. Bandelnya saya lagi, sudah tahu mepet, saya urus visa via travel.

Memang ada berbagai alasan juga kenapa saya mepet dalam pembuatan visa. Pertama, saya baru dapat kepastian magang kira-kira 2 minggu sebelum keberangkatan. Surat pengantar pun baru bisa dikeluarkan beberapa hari sebelum saya ajukan visa. Kedua, saya memilih urus via travel karena saya relatif tidak punya waktu. Pada waktu saya harus mengurus visa, saya harus bekerja freelance yang memakan waktu tiga hari. Tidak mungkin saya mengajukan sendiri setelah selesai freelance. Akhirnya saya putuskan untuk percayakan kepada travel.

Akhirnya saya ajukan visa via travel dengan melengkapi dokumen yang dibutuhkan seperti yang tertera. Saya pikir visa ini akan termasuk ke dalam visa wisata jadi saya hanya memberikan kelengkapan visa wisata, seperti itinerary, booking tiket pesawat, rekening penjamin, copy kartu keluarga, dan lain lain. Tak lupa saya tambahkan surat pengantar dari kantor yang mengundang saya untuk magang di Jepang.

Ternyata proses pembuatan visa tak semulus yang dikira karena terdapat beberapa kelengkapan yang masih dirasa janggal dan perlu diubah atau dilengkapi. Permasalahan awal yang mudah dilengkapi adalah rekening milik pribadi. Bermodalkan hanya dengan pengalaman membuat visa Amerika, saya pikir hanya memberikan rekening penjamin saja sudah cukup. Ternyata saya diminta untuk melampirkan rekening pribadi juga. Akhirnya saya pun segera lengkapi permintaan tersebut. Permintaan selanjutnya yang perlu dilengkapi adalah surat pengantar dari kantor di Jakarta. Berhubung saya semi-pengangguran dan hanya bekerja sebagai part-time researcher, akhirnya saya meminta surat pengantar dari kantor ibu saya. Lengkaplah permintaan dokumen yang perlu dilengkapi untuk awal-awal.

Kemudian terdapat beberapa kelengkapan yang terus diminta direvisi, yakni itinerary dan surat keterangan magang. Pertama saya hanya membuat itinerary secara general saja untuk 2 bulan. Saya berpikir untuk apa membuat se-detail mungkin karena hampir 60 hari saya akan berada di sana. Tapi ternyata pihak kedutaan benar-benar meminta detail yang jelas tentang perjalanan selama 2 bulan, bahkan pekerjaan yang saya lakukan selama di kantor. Wow, ribet sekali pikir saya. Akhirnya karena sudah sangat mepet saya pun berusaha penuhi keinginan pihak kedutaan. Entah, mungkin hampir 3 kali saya membuat revisi itinerary. Revisi terakhir, pihak kedutaan meminta agar itinerary saya dilengkapi dengan kop surat dari pihak kantor di Tokyo agar menjelaskan bahwa itinerary tersebut diketahui atau dibuat oleh pihak kantor sana.

Kemudian revisi selanjutnya adalah surat pengantar magang. Dalam surat pengantar magang, tertulis bahwa biaya hidup saya selama disana dan akomodasi ke Tokyo akan ditanggung sebagian oleh pihak kantor Tokyo dan sebagian oleh saya pribadi. Pihak kedutaan menilai surat tersebut membingungkan dan meminta revisi surat yang menjelaskan siapa penanggung biaya perjalanan saya keseluruhan. Akhirnya pihak kantor pun menyetujui agar dalam surat pengantar dituliskan bahwa semua biaya akan ditanggung oleh mereka, walaupun kami sudah sama-sama paham bahwa pada kenyataannya tidak akan seperti itu.

Akhirnya visa pun dapat dikeluarkan H-1 keberangkatan saya. Itupun setelah saya datang secara langsung ke kedutaan untuk meyakinkan segala kelengkapan dokumen yang telah direvisi. Jika hanya menyerahkan ke pihak travel, saya tidak yakin bahwa visa akan keluar H-1 keberangkatan dan mungkin saya pun terpaksa mengundur keberangkatan.

Tapi ternyata balada drama keberangkatan ke Tokyo tak berakhir di visa. Bandelnya saya lagi, passport saya tinggal berumur 6 bulan. Harusnya saya sudah memperbaharui sebelum saya berangkat, namun keterbatasan waktu membuat saya nekat saja dengan passport yang ada.

Ketika check-in, pihak maskapai Garuda menanyakan kelengkapan dokumen lain seperti eligibility atau alien registration card. Tapi berhubung saya hanya 90 hari menetap di Tokyo, maka kelengkapan tersebut jelas tidak dapat saya berikan. Visa saya hanyalah visa turis dan kelengkapan-kelengkapan tersebut setahu saya bisa didapatkan kalau saya menetap lebih dari 90 hari. Dengar-dengar dari pihak Garuda, sekitar 2 minggu sebelum saya berangkat, terdapat seorang WNI yang dideportasi oleh pihak Jepang. WNI tersebut ke Tokyo untuk sebuah pelatihan dan visa nya pun serupa dengan saya. Agak khawatir juga, tapi saya hanya bisa memberikan surat pengantar magang. Akhirnya pihak Garuda meng-kopi surat pengantar magang saya dan memberikan sebuah surat yang perlu saya tanda tangani, yakni surat yang menyatakan bahwa saya secara sadar paham akan risiko deportasi dan siap membeli tiket kembali pada saat dideportasi. Saya pun tidak punya pilihan lain dan menandatanganinya saja.

sedikit cuplikan obrolan dengan petugas Garuda

Petugas Garuda: Mba, ada eligibility atau ID sana?

Chaula: Gak ada mba, tapi saya ada surat pengantar magangnya.

PG: Oke, saya foto copy dulu ya.

(kemudian petugas Garuda itu kembali dengan membawa secarik kertas)

PG: Mba, tolong isi data diri dan tanda tangan di sini ya karena kemarin ada kasusu visa seperti ini dan gak ada eligibility atau ID kemudian dideportasi.

C: (dalam hati “was-was) oke (kemudian tanda tangan)

Sewaktu melewati pihak imigrasi Indonesia, pihak imigrasi pun mewanti-wanti saya bahwa dengan passport yang kurang dari 6 bulan ini akan sangat mungkin bahwa saya di deportasi. Tapi saya pun berpikir bahwa saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain nekat. Pihak imigrasi sendiri tidak menahan-nahan saya, tapi hanya menambahkan catatan kecil di stempel imigrasi, yakni “atas kemauan sendiri”.

cuplikan obrolan dengan petugas imigrasi Indonesia

Petugas Imigrasi: Ini passport kurang dari 6 bulan, kita gak tanggung jawab ya kalau misal kena deportasi.

Chaula: Oke mas nanti saya yang yakinkan saja pihak sana nya, saya ada surat keterangan magangnya juga.

Perjalanan hampir 8 jam menuju Tokyo pun dipenuhi oleh  perasaan tidak tenang karena takut dideportasi. Ketika menginjakkan kaki di bandara Haneda, saya segera melesat menuju imigrasi. Begitu sampai di imigrasi, ternyata saya tidak mendapat halangan berarti dan dapat lolos dari imigrasi dengan sedikit pertanyaan saja dengan bahasa Jepang.

cuplikan obrolan dengan petugas imigrasi Jepang (obrolan dalam bahasa Jepang)

Chaula: (dag dig dug)

Petugas Imigrasi: Bisa bahasa Jepang?

C: Bisa sedikit

MI: Ini apa ya? (sambil menunjuk purpose yang dituliskan di kartu imigrasi)

C: Internship

MI: Bukan arubaito (part-time) ya?

C: Bukan, bukan arubaito

MI: Jya, Oke

*N.B: Untuk dapat arubaito di Jepang, seseorang harus memegang alien registration card

Dengar punya dengar, petugas di Haneda memang tidak terlalu ketat dibandingkan di Narita. Tapi mungkin memang saya cukup beruntung untuk dapat berangkat ke Tokyo dan tidak dideportasi.

Ini hanya sedikit cerita dan lebih baik jangan diikuti karena terlalu mepet dan nekat. Ini adalah hal yang perlu dihindari ketika berpergian🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s