MOS dan Kaderisasi: Sudah Siap Melepaskan Tradisi?

Masa Orientasi Siswa atau yang dikenal sebagai MOS saat ini semakin santer dibicarakan di sosial media. Semasa di SMA saya sendiri tidak pernah benar-benar merasakan masa tersebut, tapi kalau tidak salah ingat saya pernah merasakan masa-masa “dibodohi” dengan segala atribut sewaktu SMP.

Tapi semasa SMA sendiri saya merasakan suatu hal yang lebih intens, yakni kaderisasi. Tulisan saya ini akan lebih memfokuskan bagaimana refleksi saya tentang MOS, kaderisasi, dan pandangan personal ketika sudah menjadi alumni dan melewati proses “kaderisasi” tersebut kembali.

Tulisan ini akan bersifat sangat personal karena saya pun berusaha mengobservasi secara pribadi dari tren siswa SMA baru per tahunnya.

Dengan memori yang minim masa SMP saya tidak dapat bercerita banyak. Tapi seingat saya memang pernah “dibodoh-bodohi” dalam hal meminta tanda tangan senior. Tapi saya relatif orang yang pemalas jadi kalau menurut saya level “pembodohannya” agak sulit atau cukup gengsi untuk dilakukan, tidak saya lakukan. Tapi untuk menjelaskan bagaimana detilnya saya cukup sungkan karena takut salah.

Tapi mungkin saya akan bercerita banyak tentang masa SMA. Sewaktu SMA, jelas di SMA Negeri 8 Jakarta tidak ada proses MOS yang diwajibkan membawa atribut karung goni, name tag besar, atau berbagai kelengkapan lain yang kadang memakai tebak-tebakan tidak masuk akal.

Proses MOS di SMA Negeri 8 Jakarta lebih banyak diisi dengan sesi khusus dengan pembicara dari sekolah dan juga baris berbaris dari TNI. Saya agak lupa apakah baris-berbaris masih menjadi agenda MOS di tahun depannya. Benar-benar datar dan tidak ada yang “menantang” ketika MOS di SMA Negeri 8 Jakarta. Bagian paling menantang adalah ketika masih dalam masa MOS, diperkenalkan dalam suasana belajar di kelas, dan kami langsung belajar. Benar-benar standard sekolah yang membuat saya heran awalnya.

Tetapi tidak lama kemudian ada proses yang jauh lebih “menantang” datang, yakni ketika dimulai proses kaderisasi. Proses kaderisasi paling awal adalah Perwakilan Kelas (untuk mereka yang mendaftarkan diri) dan subseksi (semacam ekskul tapi memiliki organisasi).

Proses kaderisasi inilah yang mempertemukan saya dengan proses mendidik yang agak lebih keras tapi saya sendiri benar-benar merasakan manfaatnya. Tidak dapat dipungkiri beberapa bagian dari kaderisasi yang saya alami adalah teriakan, latihan fisik, dan proses argumen one-on-one.

Mungkin sebagian orang tua yang mendengar ini akan takut dan mencegah anaknya untuk mengikuti proses kaderisasi. Tapi jujur dan tanpa paksaan, saya merasa semua yang saya alami memberikan manfaatkan bagi pengembangan personal semasa dan setelah SMA. Terutama dalam membangun semangat kekeluargaan diantara teman-teman sesama peserta kaderisasi.

Manfaat yang saya rasakan? Saya merasa tekanan yang dihadapi selama kaderisasi membuat saya lebih baik dalam mengatur waktu dan juga prioritas. Selain itu saya juga merasakan efektivitas kerjasama dalam sebuah tim. Tentunya juga tentang bagaimana berpikir logis dalam berargumen.

Banyak manfaat yang saya rasakan, tapi rasanya manfaat tersebut tidak dapat dirasakan serupa dengan para siswa SMA saat ini. Mengingat karakter dan cara berkembang mereka pun pasti mulai berbeda.

Saya merasakannya ketika mulai menjadi pemateri untuk acara-acara serupa di SMA. Awal-awal saya meninggalkan bangku SMA dan menjadi pemateri, saya merasa materi masih cukup relevan karena masih terdapat siswa yang dapat menerima dan menyalurkan ilmu yang diberikan sesuai dengan target pemberian materi.

Namun lambat laun, implementasi materi oleh siswa SMA semakin sulit dilakukan. Setiap tahunnya saya merasakan degradasi implementasi dengan materi serupa. Saya merasa bahwa lambat laun proses kaderisasi yang keras dengan materi serupa tidak dapat diterapkan kembali.

Entah berapa kali saya rasakan setiap materi yang saya berikan tidak dapat diterapkan dengan baik dan berimbas dengan reputasi organisasi saya sewaktu SMA.

Hingga akhirnya puncaknya pada awal tahun ini ketika saya kembali menjadi pemateri. Saya tidak pernah mendapatkan feedback apapun dari siswa yang menjadi peserta kaderisasi. Feedback yang diberikan pun terkadang hanya berbentuk pengulangan tidak berarti. Saya masih memakai cara yang sama dengan dulu, dengan sikap tegas memberikan pertanyaan-pertanyaan. Tapi tetap tak mendapat jawaban memuaskan.

Akhirnya saya pun benar-benar sudah putus asa dengan tradisi lama yang sudah tidak bisa lagi diterapkan.

Sudah beberapa kali saya sampaikan bahwa sudah saatnya mengganti tradisi yang sudah sangat usang dan tidak relevan lagi ini. Karakter siswa SMA sudah sangat berubah dan mungkin pemberian materi dengan cara-cara diklat formal mungkin akan lebih bermanfaat. Tidak ada salahnya mencoba seperti itu. Tekanan tetap akan datang dari pemberian tugas, tapi mungkin cara-cara usang tak perlu lagi diterapkan.

Tapi pertanyaan terbesarnya, apakah para siswa SMA yang sudah senior ingin mengubahnya? Mereka menjadi korban tradisi, tapi saya harap mereka siap untuk mengubah tradisi dan bersikap dewasa.

Sebagai alumni saya mungkin tidak tahu banyak tentang kondisi sekolah dan saya juga tahu benar rasa tidak suka ketika sudah “digerecoki” alumni. Semua dikembalikan kepada mereka dan bagaimana mereka menyikapinya.

MOS atau kaderisasi bukanlah ajang balas dendam, melainkan ajang pendewasaan. Ajang untuk membuat anda dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Membantu orang lain untuk membangun diri, bukan untuk membodohi orang lain dan diri sendiri. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s