PEMILU SEBENTAR LAGI! BOLEH GOLPUT ASAL…….

Pemilu akan berlangsung besok, sampai saat ini pemberitaan nasional dan obrolan yang berputar di kampus sangat lekat dengan Pemilu. Semua telah dipersiapkan dalam menyambut pesta demokrasi akbar demi pemerintahan lima tahun kedepan. Tapi persiapan itu masih meninggalkan ruang kosong yang menumbuhkan kebingungan diantara para pemilih. Disamping ruang kosong, masih terdapat kecacatan yang masih terselip dalam sebuah proses pemilu ini. Ruang kosong dan kecacatan apa itu?

Saya yang masih amatir pemahamannya perihal Pemilu akan menuangkan tulisan dari pemikiran saya dalam artikel ini. Maaf kalau terkesan sok tahu.

Hanya sebuah pemikiran kritis yang selama ini saya terus saya lemparkan dalam pikiran saya sendiri.

Mininmnya Informasi terkait Caleg

Permasalahan dan kebingungan yang selama ini muncul adalah kebingungan dalam menentukan pilihan calong anggota legislatif. Tahun ini pihak KPU dan beberapa organisasi lainnya berusaha menyediakan informasi-informasi terkait para calon anggota legislatif dengan menyertakan CV di profil singkat para caleg. Saya sedikit merasa terbantu dengan profil para caleg itu. Saya pun berusaha mendorong teman-teman saya agar tidak terlalu buta akan informasi caleg yang akan dipilih. Dalam memilih caleg sendiri, pertama saya mencari caleg sesuai dengan preferensi partai yang menurut saya searah dalam nilai dan tujuannya dengan saya. Baru kemudian saya pilah dan pilih preferensi calegnya. Namun, ternyata saya sendiri secara pribadi belum begitu merasa terbantu dengan informasi yang saya dapatkan hanya dengan melihat CV para caleg, apalagi hanya dengan melihat foto dan iklan mereka yang terpampang di sepanjang jalan. Saya bukan sedang memilih foto model, saya akan memilih mereka yang akan menjadi jembatan penghubung saya dengan pemerintahan. Saya akan memilih mereka yang memiliki peranan penting dalam mengevaluasi kinerja pemerintahan, bukan mereka yang hanya akan tidur dalam rapatnya. Informasi saya akan kredibilitas, visi, dan misi dari caleg masih sangat minim. Terdapat suatu dialog menarik antara saya dengan beberapa teman saya.

“Gw tuh gak mau dengan liat CV doang seakan gw jadi dibutakan sama prestasi mereka doang.”

Ya benar juga saya pikir, kami bukan pemilih yang sekadar melihat pengalaman organisasi. Kami disini sebagai pemilih yang butuh tahu apa yang hendak dilakukan para calon kedepannya. Apa yang hendak dilakukan kepada pemerintahan. Informasi-informasi tersebutlah yang masih sangat minim. Saya bahkan hampir tidak pernah melihat poster atau spanduk yang menyertakan visi-misi caleg di dalamnya. Semua hanya menyertakan foto, nama, partai, dan cara memilih.

Hal lain yang kemudian menarik bagi saya adalah, saya belum menemukan caleg yang membuat website khusus tentang visi, misi, dan program yang ingin diinisiasikan. Padahal kalau dipikir-pikir, hampir semua caleg pastinya memiliki dana yang cukup untuk melaksanakan kampanye. Membuat website semustinya bukan menjadi sebuah permasalahan yang besar, atau setidaknya menyediakan informasi mereka di internet akan menjadi suatu sarana interaktif yang menarik bagi para calon pemilih.

Kemudian permasalahan lain muncul ketika dibilang bahwa sebenarnya target pemilih dari para caleg bukanlah mereka yang memiliki akses internet, melainkan mereka yang berada pada level menengah ke bawah. Oleh karena itu para caleg lebih memilih untuk blusukan ke kampung-kampung. Ya, mungkin hal tersebut memang efektif untuk sekadar mencuri hati, dan mungkin terkadang membodohi karena mereka terkadang lupa menjelaskan apa nilai yang hendak di bawa dan hanya sebatas berbagi rezeki lebih.

Sekarang ini sebenarnya banyak sekali pemilih muda yang dapat menjadi sasaran bagus bagi para caleg. Para pemilih muda saat ini banyak sekali yang sedang berusaha mencari informasi melalui media sosial ataupun website. Website-website seperti dct.kpu.go.id, jariungu.com, majuindonesia.com merupakan segelintir website yang diinformasikan cukup masif di twitter. Tapi kelemahan dari masing-masing web, belum bisa memuat secara komprehensif visi dan misi. Menurut pendapat pribadi saya, pemuda saat ini juga sangat suka dengan daya tarik visual. Membaca dan menelaah visi misi yang dipadu padankan dengan visualisasi website atau video pastinya akan sangat menarik. Mungkin tulisan saya ini tergolong sangat telat.

Maaf kalau menjadi kritik yang tidak tepat pada waktunya.

Perpindahan DPT

Permasalahan formulir A5 pun menjadi suatu isu yang sangat diperdebatkan, terutama di lingkungan kampus saya, FISIP UI. Terdapat suatu keputusan dari KPU bahwa para orang rantau dapat memilih dan disesuaikan dengan daerah rantau mereka saat ini. Ya, KPU berusaha agar dapat memfasilitasi mereka yang rantau agar tidak golput dan tetap dapat menyumbangkan suaranya dalam pemilihan legislatif. Tapi ada suatu celah yang kemudian luput dari kebijakan tersebut. Selain risiko akan adanya mobilisasi oleh pihak-pihak tertentu, ada isu lain yang lebih penting, yakni legitimasi. Akan menjadi suatu permasalahan legitimasi ketika seorang pemilih yang sebenarnya berasal dari daerah A namun diharuskan memilih mereka yang berada di daerah B. Tidak ada legitimasinya karena pemilih sendiri tidak memilih atas nama kepentingan daerahnya dan memilih mereka yang bahkan tidak akan membawa kepentingan dari daerah asalnya. Memilih para caleg bukan hanya sekadar memilih mereka berdasarkan partai, tapi juga berdasarkan daerah pemilihan. Daerah Pemilihan bukan hanya menjadi suatu formalitas semata. Kita memilih orang yang nantinya akan membawa kepentingan dari daerah kita juga. Kita memilih orang yang mewakili kepentingan orang-orang dari daerah pemilihannya. Dengan adanya pemindahan DPT itu sendiri, maka legitimasinya lah kemudian yang dipertanyakan. Misal, di Depok, akan ada berapa ribu suara di Depok yang bertambah kalau semua mahasiswa rantau UI memutuskan untuk memindahkan DPT nya? Pastinya akan sangat banyak. Dan berapa ribu suara juga yang legitimasinya perlu ditanyakan? Urgensi kepentingan masing-masing daerah pastinya akan berbeda dan pandangan atau persepsi seseorang dalam pemilihan pun terkadang akan berbeda tergantung pada karakter pembangunan daerahnya. Itulah yang kemudian perlu dikritisi kembali tentang sistem yang diberlakukan oleh KPU.

Acuh terhadap Segregasi Partai?

Tempo hari saya mengikuti sebuah dialog dengan caleg di salah satu mall terkemuka di Jakarta. Di sana terdapat suatu pernyataan caleg yang menarik perhatian saya. Pernyataan caleg ini sangatlah normatif dan berusaha untuk membawa kepentingan dari semua masyarakat tapi malah cenderung salah menurut saya. Caleg ini mengatakan bahwa dia akan membawa kepentingan seluruh masyarakat dan seakan-akan mengatakan bahwa partai hanya menjadi simbol. Ini menjadi sangat menarik karena menurut saya para caleg sendiri belum paham bagaimana pentingnya fraksi. Untuk apa masyarakat memilih partai? Kalau pada akhirnya kepentingan dari partai yang dianggap sejalan dan senilai dengan masyarakat yang memilihnya tidak dibawa? Masyarakat memilih partai pastinya dengan preferensi akan adanya nilai dan tujuan. Partai ada karena mereka lah yang menjadi wadah untuk penyampaian aspirasi dari masyarakat yang memilihnya. Kalau para caleg sendiri tidak paham akan pentingnya nilai dari sebuah fraksi, sekalian saja mereka jadi calon anggota independen. Itupun kalau sistem memperbolehkan. Jawaban yang berusaha menarik hati semua masyarakat tapi malah salah secara substansi. Hal-hal tersebutlah yang kemudian menjadi perangkap bagi para caleg. Pemahaman mereka tentang hal-hal substantif perlu ditingkatkan. Saya ingin memilih mereka yang paham secara substansi sehingga dapat meningkatkan kerjanya secara praktikal.

Melihat kritik saya tersebut, pada akhirnya saya merasa bahwa selama ini ada kesalahan pemahaman tentang GOLPUT. Masyarakat selama ini dihimbau untuk tidak GOLPUT. Lalu, buat apa memilih kalau memilihnya asal-asalan padahal untuk menentukan nasib bangsa? Ada suatu pendekatan yang salah dari kampanye “Jangan Golput”. Menurut saya akan lebih baik jika menggunakan pendekatan “Menjadi Pemilih yang Cerdas”. Lalu bagaimana menjadi pemilih yang cerdas? Setidaknya pemilih yang cerdas berusaha mencari tahu tentang kredibilitas, nilai, visi, dan misi dari partai maupun calon yang mereka pilih. Jikalau tidak semua informasi tersedia, setidaknya sebagian bisa ditemukan dengan mudah.

Saya pun menyimpulkan bahwa GOLPUT bukanlah sesuatu hal yang perlu dilarang dengan sangat keras. Menurut saya sendiri, GOLPUT itu juga merupaka sebuah pilihan. Secara pribadi, saya melihat seseorang diperbolehkan GOLPUT asalkan dia sudah berusaha mencari tau tentang nilai, visi, dan misi dari partai atau calon yang ada. Apabila tidak ada partai atau calon yang dianggap sejalan dengan kepentingan dan nilai yang dimilikinya, maka pemilih tersebut berhak untuk GOLPUT.

Lagi-lagi ini pendapat saya yang masih sangat awam dengan dunia politik dan mungkin secara substansi juga masih sangat amatir.

Punya pendapat lain? Mari tuangkan pendapat kalian dalam fitur komen😀

Selamat menjadi PEMILIH CERDAS dan menentukan nasib bangsa Indonesia!

3 thoughts on “PEMILU SEBENTAR LAGI! BOLEH GOLPUT ASAL…….

  1. tidak menyangka besok adalah pesta rakyat untuk memilih pemimpin bangsa ini, semoga yang terpilih dapat menjadi sesuatu yang terbaik bagi bangsa indonesia 5 tahun kedepan, amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s