PEMIRA FISIP UI 2013: Politik, Intrik, dan Sahabat

HALO!

Sudah lama tidak menyentuh blog saya sendiri. Kali ini saya datang dengan sebuah cerita yang menurut saya menjadi perjalanan sangat penting selama karir berorganisasi saya. Cerita itu adalah proses Pemilihan Raya FISIP UI 2013. Kenapa saya mau menceritakan ini kepada teman-teman? Karena menurut saya banyak sekali pelajaran yang saya ambil selama mengikuti proses Pemira, dari mulai demotivasi hingga suntikan semangat dari orang-orang yang bahkan tidak begitu saya kenal dengan baik. Jadi gimana sih ceritanya? Jadi gini nih guys!

Cerita ini bermula di BPM FISIP UI. Ya, kebetulan saya sudah sekitar 2 periode tergabung ke dalam BPM FISIP UI. Di tahun pertama saya menjabat sebagai staff Komisi Suksesi dan Kaderisasi, sedangkan di tahun kedua saya menjabat sebagai Ketua Komisi 4 atau Komisi yang membawahi beberapa program seperti Pemira, PSAK(re: orientasi tingkat fakultas) dan juga meliputi kelembagaan. Ketika di tahun kedua menjabat, biasanya akan muncul pertanyaan-pertanyaan apakah akan melanjutkan di tahun ketiga karena kebanyakan memilih untuk tidak melanjutkan karena ingin fokus menuju tingkat akhir atau berorganisasi di tempat lain. Jujur, saya sendiri pada saat ingin melanjutkan di tahun kedua masih ragu dan berpikir untuk fokus di organisasi saya yang lain, ISAFIS(Indonesian Students Association for International Relations Studies). Tapi karena ada seorang senior yang berkata bahwa diperlukan regenerasi di Komisi saya, maka saya disarankan untuk melanjutkan di tahun kedua. Dan akhirnya saya pun melanjutkan di tahun kedua dan terpilih menjadi Ketua Komisi. Lalu ketika ingin melanjutkan ke tahun ketiga, menurut saya lagi-lagi saya ditinggalkan tanpa pilihan, secara tidak langsung. Tanggung jawab terhadap komisi dan pengalaman yang telah saya dapatkan selama dua tahun membuat saya merasa ada dorongan besar untuk tetap melanjutkan di tahun ketiga. Walaupun sebenarnya saya tahu bahwa ketika melanjutkan ke tahun depan tanggungan yang akan dihadapi jauh lebih besar dan tantangannya pun lebih berat. Tapi akhirnya, saya tetap memutuskan untuk melanjutkan karir di BPM FISIP UI pada tahun ketiga dan memutuskan untuk mengikuti proses pemilihan raya untuk menjadi Anggota Umum BPM FISIP UI. Sebelumnya saya tergabung dalam BPM FISIP UI melalui rekrutmen yang dibuka oleh Himpunan Mahasiswa sehingga saya merupakan perwakilan HM.

Apa sih anggota umum? Buat apa sih jadi anggota umum? Penting ya jadi anggota umum? Ngapain susah-susah sih kalau gak pasti jadi ketua umum juga?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sering dilontarkan kepada saya. Secara repetitif saya mengulangi penjelasan saya. Saya menjawab sesuai dengan apa yang saya ketahui. Anggota umum adalah anggota di dalam BPM yang sistem pemilihannya dipilih langsung melalui pemilihan raya FISIP. Sikap keterwakilan dari anggota umum lebih luas sehingga tidak terkotak-kotakkan ke dalam kepentingan Himpunan. Melalui anggota umum, maka BPM dapat menjangkau tidak hanya pada lingkup Himpunan, melainkan juga ke lembaga lainnya di tingkat FISIP dan mahasiswa FISIP secara luas. Buat apa jadi anggota umum? Kalau saya bilang, saya sangat idealis dalam hal ini. Saya ingin memperkenalkan BPM FISIP UI ke khalayak ramai karena masih banyak yang belum mengetahui fungsi dari BPM dan pastinya saya ingin memperlihatkan bahwa sebenarnya anak HI masih peduli dengan kelembagaan di FISIP. Pertanyaan selanjutnya, kenapa saya mau susah-susah melewati Pemira padahal belum pasti jadi ketua. Lagi-lagi dikembalikan ke jawaban saya yang idealis, dan saya bukan mengejar jabatan, saya lebih mengejar pelajaran. Pelajaran? Ya, saya merasa penting bagi saya untuk belajar lebih banyak ketika saya ingin melanjutkan karir di BPM FISIP UI pada tahun ketiga. Mau tidak mau dengan adanya proses Pemira saya banyak bertanya kepada orang-orang tentang kelembagaan di FISIP dan tentunya pandangan mereka tentang BPM FISIP UI dan Anggota Umum. Silahkan bilang saya bullshit, tapi ini jujur, seriusan, aslik!

Sebelum saya memutuskan untuk maju dalam Pemira, saya telah berdiskusi dengan beberapa teman di BPM dan tentunya dengan teman-teman lainnya, baik teman-teman HI, ISAFIS, atau teman-teman SMA saya. Mereka banyak memberikan masukan dan dukungan untuk saya hingga akhirnya saya memantapkan diri untuk meramaikan Pemira. Saya pun berusaha mencari Campaign Manager yang pas dan bersedia untuk menemani sepanjang Pemira. Setelah dengan konsiderasi penuh, akhirnya hanya satu nama yang muncul di benak saya, Maharani Karlina CH. Teman saya semenjak SMA, teman dekat selama dua tahun di kelas IPS, teman Liqa, dan teman dari segala teman. Haha. Iya, kebetulan sekali dia merupakan mahasiswi FISIP UI, jurusan Ilmu Komunikasi 2011. Akhirnya saya pun mengajak teman saya ini untuk menjadi CM. Teman saya yang satu ini perawakannya masih terlihat seperti anak kecil, suaranya pun melengking dan berisik, intinya suara dan nada bicaranya bener-bener kayak anak kecil. Film kesukaannya? Kartun My Little Pony dan Adventure Time. Coba dibayangin aja bentuknya. Tapi jangan salah, dia pikirannya kritis dan suka out of the box, dia dulu ranking 1 selama di kelas IPS loh! Haha intinya waktu saya mengajak dia untuk menjadi CM dia mengiyakan tanpa ragu-ragu, keraguannya hanya satu, yaitu tidak mengerti perpolitikan di FISIP. Tapi saya meyakinkan bahwa hal yang perlu dia lakukan hanyalah sebatas kesekretariatan keperluan saya selama Pemira, tidak lebih. Kami pun berdua yakin bahwa kami akan berhasil melewati proses Pemira ini. OPTIMIS! Itu kata-kata yang sangat saya ingat ketika chat dengan Rani.

BZrOqAbCUAANTiP

Saya mengambil formulir bakal calon tepat di hari pertama pembukaan. Salah satu kelengkapan berkas yang saya rasakan paling sulit adalah mengumpulkan tanda tangan dukungan karena terdapat porsi per angkatan dari masing-masing jurusan yang perlu saya penuhi. Kalau bisa dibilang, secara efektif saya hanya bekerja berdua dengan Rani, dibantu sedikit oleh teman-teman lainnya. Saya bukanlah tipikal orang yang mau sok kenal dan sok dekat dengan orang lain ketika pertama kali bertemu, tapi ketika saya sedang berusaha mengumpulkan tanda tangan, mau tidak mau saya melakukannya dan berusaha bersosialisasi dengan orang lain yang belum saya kenal. Lama-lama saya menjadi terbiasa dan banyak ngobrol dengan orang-orang baru tersebut. Banyak pertanyaan yang mereka lontarkan terkait pencalonan saya, BPM FISIP UI, bahkan masukan kepada BPM. Saya pun berusaha menjawab dengan kapasitas yang saya miliki. Sementara rekan saya, Rani, dia berbeda, dengan tingkah lakunya yang santai dan ramai ketika bertemu dengan siapapun, dia berhasil mendapatkan tanda tangan dengan sangat cepat. Dengan bantuan Rani, saya pun menjadi lebih kenal dengan teman Rani, yaitu Sukro. Sukro banyak membantu saya dalam proses Pemira, mulai dari pengumpulan tanda tangan sampai ketika sudah lolos saya dibantu mencari tempat print poster dan pastinya juga jadi teman diskusi soal perpolitikan kampus. Akhirnya dengan bantuan teman-teman, terutama Rani, saya pun lolos verifikasi berkas dan berhasil menjadi Calon Anggota Umum BPM FISIP UI 2014.

Campaign Aya

Ketika menjadi Calon Anggota Umum, ada beberapa tahapan yang harus saya lewati, seperti Debat Kandidat, Debat Panelis, Bakti Kandidat, dan Mimbar Bebas. Tapi pertama-tama pastinya saya menyiapkan instrumen kampanye. Dengan bantuan teman saya di luar FISIP, saya pun berhasil mencetak poster dengan cepat. Tidak lama kemudian, Rani pun selesai mendesign Banner saya yang astagfirullah muka nya gede banget dan ganggu. Hahaha. Tapi sepertinya memang inti kampanye saya kali ini adalah konsep ganggunya. Saya menciptakan tagline #SIKAT sebagai singkatan dari Sinergis, Kontributif, dan Aspiratif. Ganggu kan? Oh iya selama masa kampanye, saya diinstruksikan untuk memakai selempang yang bertuliskan calon anggota umum BPM FISIP UI 2014 selama di FISIP, tapi kebijakan tersebut hanya bertahan sebentar dan kemudian kebijakannya berubah sehingga tidak perlu diselempangkan, tapi bisa dikemanakan dimana saja, misalnya melilitkannya di lengan. Oh iya sewaktu pasang banner, Rani sendiri loh yang memasangkannya, dia yang manjat-manjat dan mengikat tali dari ujung banner. Sambil manjat, lucunya dia sambil ngedumel, “Aduh Aya, aku kalo jadi kamu tuh bersyukur banget loh bisa punya CM kayak aku.”, dan saya pun mengangguk pasrah sambil melihat kelihaiannya memanjat untuk memasang banner.

BZ4M_PwCcAAMm0l

Lalu saya pun melewati proses yang sebenarnya, ketika terdapat eksplorasi terhadap para calon. Selama debat kandidat, saya berusaha menjawab masing-masing mosi yang telah dipersiapkan dengan jawaban yang ada dalam benak saya dan hasil bertanya-tanya dengan orang sekitar. Kemudian selama debat panelis, saya berusaha lebih menjadi diri sendiri karena pada saat debat kandidat Rani bilang kalau saya terlihat bukan seperti diri saya sendiri. Dan Alhamdulillah dengan menjadi diri saya sendiri, salah satu panelis memuji gaya saya dalam berbicara. Walaupun secara substansi masih banyak kritik terhadap jawaban-jawaban yang saya lontarkan, terutama tentang belum jelasnya gagasan apa yang hendak saya bawa untuk BPM FISIP UI kedepannya. Kemudian, datanglah masa Mimbar Bebas, masa yang paling “ditunggu-tunggu”. Mimbar bebas dikenal menjadi sesi eksplorasi yang paling lama, dari malam hingga subuh. Dan benar saja, mimbar bebas tahun ini dimulai pada pukul 20.00 hingga sekitar pukul 05.45. Selama mimbar bebas banyak pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan, tentang urgensi PDKK, urgensi BPM FISIP UI, apa yang dilakukan BPM selama ini, apa yang akan dilakukan kedepannya, apa berani menghilangkan program tertentu dari Proker BPM, pengetahuan tentang kelembagaan FISIP UI, dan hubungan masing-masing lembaga dengan BPM. Saya merasa bahwa selama proses mimbar bebas, jawaban-jawaban yang saya lontarkan sangat belum maksimal dan terkadang terdengar ngawur ketika saya rekam ulang dalam pikiran saya. Saya merasa kecewa dengan jawaban-jawaban saya sendiri. Saya sendiri sudah mencatat pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dan hingga saat ini masih berusaha mencari jawaban yang paling layak untuk pertanyaan-pertanyaan tertentu yang saya rasakan saya masih minim untuk menjawabnya. Tapi benar saja, mimbar bebas menjadi proses yang sangat penuh dengan pelajaran. Saya mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru dan masukan baik langsung ataupun tidak langsung yang dapat membangun pribadi saya kedepannya ketika melanjutkan karir di BPM FISIP UI.

Dibilang semangat terus selama Pemira, itu pernyataan bohong menurut saya. Jujur selama masa Pemira saya melewati masa-masa demotivasi. Sampai kepikiran, “ngapain susah-susah ikut ginian? Gak bisa banget ya mundur? Ah tapi udah sampe sini.” Semua pikiran-pikiran itu yang selalu mampir ke pikiran saya. Belum lagi saya mendengar ada semacam intrik politik yang dilakukan di belakang saya. Tapi lagi-lagi, beruntunglah saya punya banyak teman yang baik dan bisa untuk berbagi cerita. Mereka terus memberikan masukan dan suntikan semangat untuk saya. Terutama CM saya yang selalu mengisi masa-masa Pemira dengan kecerewetan dan keriaan dia yang hampir tidak pernah padam.

Akhirnya, tibalah saatnya masa pemungutan suara. Setelah 5 hari masa efektif pemungutan suara, penghitungan suara dilaksanakan pada hari Jumat. Ditemani rintik hujan, penghitungan suara pun berjalan dengan lancar. Dari sekitar 1800 an pemilih yang datang ke TPS, saya berhasil meraup suara sekitar 1220 suara. Jumlah suara yang sangat besar dan menurut saya menjadi tanggung jawab yang sangat besar untuk saya kedepannya. Terdapat janji-janji kampanye yang perlu saya pertanggungjawabkan di masa jabatan saya nantinya. Tetapi saya merasa bahwa saya sangat membutuhkan bantuan dari teman-teman yang telah memilih saya. Secara keseluruhan saya cukup puas dengan proses pembelajaran yang saya dapatkan di Pemira FISIP UI 2013. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menjalani proses ini. Ucapan terima kasih yang paling utama saya lontarkan kepada Maharani Karlina CH, CM yang setia menemani kapanpun itu selama Pemira. Makasih ya Rani!

One thought on “PEMIRA FISIP UI 2013: Politik, Intrik, dan Sahabat

  1. Ah Aya :’)

    Pas rani nerima job jadi CM juga rani juga ngomong “ARE YOU NUTS?” sama diri sendiri. But really, I wouldn’t take any job (terutama yang sengerepotin ini) if I don’t think you’re worthy of the title and worth the effort. Jadi selamat, Aya! Semoga keberadaan kamu sebagai anggota umum bisa bikin BPM bersinar!

    Dan sama-sama! Aku juga seneng kok bisa bantu, aku juga jadi kenal orang dan belajar banyak. I would never had the chance to if it weren’t you who think I’d do such thing–even I didn’t think I’d do something like being a CM of anyone (ya males juga sih) so if anything, I should be thanking you for trusting me having this chance of being your CM!

    Biarpun rani segera pulang, rani sangat bangga lho dengan 1220 suara yang terkumpul untuk Aya :] Selamat! Dan terima kasih kembali, Aya!😀😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s