Pop Culture: Revitalisasi Pengaruh Internasional Jepang

Pasca berakhirnya Perang Dunia II, Jepang menghadapi pekerjaan rumah yang besar, yakni bagaimana untuk membangun kembali negaranya dari keterpurukan dan juga membangun citra negara nya di mata dunia Internasional. Sejak saat itu, Jepang mengalami evolusi besar dalam diplomasi publik dan diplomasi kebudayaannya yang merupakan salah satu bentuk untuk revitalisasi pemerintahannya. Jepang berusaha memanfaatkan sektor-sektor potensial seperti, musik pop, animasi, makanan, arsitektur, dan fashion untuk membangun citranya kembali dan mengembalikan status sebagai negara superpower. Sehingga, saat ini banyak orang berpendapat bahwa Jepang merupakan cultural superpower, berbeda dengan dulu ketika pada periode tahun 1980-an dimana Jepang merupakan economic superpower.

Akhir tahun 1990-an, Jepang harus mulai kembali mengubah strategi diplomasinya seiring dengan arus globalisasi yang memberikan tantangan-tantangan baru. Salah satu strategi yang digunakan oleh Jepang adalah untuk mengembangkan budaya-budaya postmodern, disamping memanfaatkan budaya-budaya tradisional yang telah ada sebelumnya. Anime, komik manga, fashion, musik pop, makanan, dan novel dari penulis-penulis muda akhirnya mulai menempati posisi peranan penting dalam kegiatan kebudayaan Jepang di tingkat Internasional. Tak dapat dipungkiri bahwa secara alamiah kegiatan-kegiatan tersebut bersifat komersil dan memiliki keterkaitan yang kuat dengan kebijakan perdagangan, seperti perlindungan terhadap kekayakan intelektual dan juga partisipasi dalam festival-festival Internasional.

Jepang benar-benar memanfaatkan pop culture sebagai sarana diplomasi, terbukti dengan keseriusan pemerintahan Jepang yang memfokuskan pop culture dalam salah satu bagian di Diplomatic Bluebook 2004 dengan nama programnya, “Cool Japan”. Bahkan Gaikō Fōramu(Forum Diplomatik), majalah bulanan terkait diplomasi yang dipublikasikan oleh Kementrian Luar Negeri Jepang, memiliki satu bagian khusus untuk artikel-artikel terkait pop culture sebagai perangkat diplomasi dalam beberapa isu. Untuk meningkatkan efektivitas serta efisiensi penggunaan pop culture itu sendiri, Kementerian Luar Negeri Jepang mengadakan kerjasama dengan Japan Foundation yang merupakan lembaga dibawah pemerintahan Jepang yang terdapat di berbagai negara dimana salah satu tugasnya adalah menjembatani publikasi kebudayaan Jepang di berbagai belahan dunia.

Pengaruh pop culture Jepang di berbagai belahan dunia sudah tidak dapat diragukan lagi. Anime-anime Jepang menjadi semakin mendunia dan sangat mudah diakses dalam berbagai bahasa, gaya berbusana anak muda pun mulai mengikuti kiblat Jepang, selain itu musik-musik Jepang pun menjadi semakin sering diperdengarkan dimanapun. Penjualan-penjualan produk pop culture Jepang melesat dalam angka yang cukup signifikan, seperti penjualan CD yang bahkan angka preorder Internasional nya pun dapat menembus angka satu juta kopi. Klub-klub pengkaji kebudayaan Jepang pun semakin banyak dan tidak hanya itu, bahkan banyak klub yang mengkaji nya secara spesifik. Festival kebudayaan Jepang menjadi daya tarik bagi masyarakat di seluruh dunia, salah satunya Indonesia, dimana Japan Foundation mengadakan acara tahunan yang dinamakan JakJapan Matsuri. Acara tersebut merupakan acara dalam skala besar dan berhasil menarik ratusan ribu pengunjung dalam satu hari. Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk melihat bagaimana pemerintahan Jepang memanfaatkan pop culture sebagai sarana diplomasi efektif untuk menyebarkan pengaruhnya.

Masih lekat dalam ingatan beberapa kartun Jepang dengan sukses mendominasi pertelevisian domestik. Kartun-kartun seperti Pokemon dan Doraemon menjadi suatu tontonan wajib bagi anak-anak di seluruh dunia. Kartun-kartun Jepang tersebut mengisi waktu-waktu premier di televisi, yakni sepulang sekolah dan pada sabtu atau minggu pagi. Kartun Jepang atau yang lebih dikenal anime telah berhasil melebarkan pengaruhnya ke seluruh belahan dunia. Salah satu bukti nyatanya adalah ketika Pokemon yang dulu sempat mencapai masa kejayaannya berhasil disiarkan di lebih dari 65 negara dan diterjemahkan ke dalam 30 bahasa. Kesuksesan Pokemon tersebut lantas membuat anime ini berhasil menjadi sampul utama dari majalah TIME.

            Doraemon pun menjadi salah satu anime lainnya yang memiliki pengaruh yang kuat di berbagai belahan dunia, seri komik dan film nya sudah dirilis dalam jumlah yang cukup banyak. Pemerintah Jepang pun menyadari potensi dari Doraemon yang dinilai dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat luas. Sehingga, pada Maret 2008, tokoh kartun Doraemon dinobatkan sebagai Duta Anime oleh Menteri Luar Negeri Jepang saat itu, yakni Masahiko Koumura. Koumura mengungkapkan harapannya dengan menobatkan Doraemon sebagai Duta Anime, bahwa ia memiliki harapan yang besar bahwa masyarakat dunia dapat mengetahui sisi positif dari Jepang melalui anime Jepang. Selain itu Koumura juga mengharapkan agar Doraemon dapat berpergian ke seluruh dunia dan mempromosikan serta memperkenalkan Jepang ke seluruh dunia. Selain itu diharapkan pula dengan kehadiran Doraemon maka juga akan menambah daya tarik Jepang terhadap masyarakat asing pada aspek-aspek lainnya, seperti budaya tradisional, musik, dan teknologi. Sebagai tanggapan atas harapan yang diungkapkan oleh Koumura, para tokoh dibalik kesuksesan anime Doraemon mengungkapkan bahwa mereka pun mengharapkan melalui anime Doraemon, orang-orang di seluruh dunia dapat mengetahui bagaimana pemikiran-pemikiran orang Jepang, kehidupan apa yang mereka jalani, dan juga masa depan seperti apa yang hendak mereka ciptakan. Dapat dilihat bahwa pemerintah Jepang berusaha untuk mengadvokasi kebudayaan Jepang, meningkatkan citra Jepang, dan mendorong penggunaan instrumen soft power.

            Fenomena Anime dan Manga pun memberikan ide baru bagi Pemerintahan Jepang, yakni dengan mengadakan World Cosplay Summit dan International MANGA Award. Cosplay adalah singkatan dari “costume play” yang dalam bahasa Jepang disebut sebagai “Kosupure”. World Cosplay Summit diadakan pertama kali pada tahun 2003 dengan partisipan yang datang dari berbagai belahan dunia, seperti Italia, Jerman, dan Perancis. Tujuan dari pengadaan World Cosplay Summit tersebut adalah untuk menciptakan pertukaran budaya Jepang oleh pemuda dengan dibantu oleh anime dan manga sebagai perangkatnya. Tujuan tersebut sejalan dengan kebijakan dari Kementerian Luar Negeri yaitu untuk meningkatkan pemahaman dan ketertarikan masyarakat Internasional terhadap Jepang melalui pop culture, sehingga Kementerian Luar Negeri Jepang memutuskan untuk mendukungnya dengan menjadi sponsor sejak tahun 2006. Salah satu usaha mempromosikan Jepang melalui World Cosplay Summit tersebut telah dilakukan melalui beberapa kegiatan, seperti pada tahun 2011 dimana partisipan berkesempatan untuk memberikan dukungannya kepada korban gempa Tohoku dan dapat berjumpa dengan cosplayer lokal disana. World Cosplay Summit pun memperkenalkan makanan khas daerah tersebut dan mengajak partisipan untuk membuat kerajinan tangan tradisional khas daerah Aizuwakamatsu.

            International MANGA Award pun menjadi salah satu kegiatan lainnya yang dimanfaatkan oleh Kementerian Luar Negeri Jepang untuk mempromosikan budaya serta nilai-nilai yang ada di Jepang. Penghargaan ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 2006 dengan harapan dapat membangun mutual understanding antara kartunis-kartunis yang ada di luar negeri terhadap budaya Jepang. Pada tahun 2012, pengadaan International MANGA AWARD memberikan kesempatan bagi para pemenangnya untuk mengunjungi Iwate yang merupakan salah satu daerah yang mendapatkan dampak terburuk akibat gempa. Pada kesempatan itu para pemenang tak hanya dapat memahami lebih dalam mengenai pop culture Jepang, melainkan juga sejarah, alam, budaya, dan makanan khas Jepang. Dengan pemberian hadiah berupa kunjungan tersebut Kementerian Luar Negeri menaruh harapan yang sangat besar kepada para pemenang bahwa saat mereka kembali ke negara asalnya, mereka akan menceritakan pengalaman yang mereka dapatkan di Jepang dan menumbuhkan ketertarikan bagi orang-orang di sekelilingnya.

Selain itu, budaya musik pop merupakan salah satu elemen yang tidak dapat dipisahkan dari fenomena pop culture Jepang. Walaupun harus diakui bahwa fenomena Korean Pop(KPop) masih lebih signifikan dibandingkan dengan Japan Pop karena dianggap bahwa jenis musik KPop jauh lebih mudah diterima oleh selera masyarakat Internasional. Tetapi tidak dapat dilupakan bahwa musisi-musisi sekelas Namie Amuro, Perfume, AKB48, EXILE, Laruku, dan Arashi berhasil menarik perhatian masyarakat dunia dan memiliki basis fans di seluruh dunia. Fenomena tersebut cukup luar biasa karena harus dilihat bahwa musisi-musisi tersebut terbilang jarang melakukan tur luar negara, beberapa musisi hanya sempat melakukan satu atau dua kali. Untuk salah satu grup musik sekelas Perfume pun baru melakukan tur mancanegaranya untuk pertama kali pada tahun 2012, yakni sebelas tahun setelah debut mereka. Namun jumlah fans yang mereka miliki sudah sangat banyak bahkan sebelum diadakannya tur mancanegara tersebut.

Fenomena yang sangat lekat dengan citra JPop saat ini adalah kehadiran dari grup idola AKB48 yang telah mengalahkan penjualan album Lady Gaga dan Justin Bieber dengan total penjualan domestik di Jepang senilai 200 milyar dolar Amerika, serta telah berhasil mengubah konsepsi masyarakat internasional akan budaya musik pop Jepang. Penjualan mancanegaranya pun tidak kalah, jumlah preorder sebelum tanggal rilis untuk dikirim ke berbagai negara mencapai ratusan ribu kopi. Salah satu daya tarik yang membuat AKB48 menjadi berbeda adalah konsep “idol you can meet”, konsep tersebut membuat fans lebih mudah untuk bertemu dengan idola mereka melalui kegiatan-kegiatan seperti pertunjukkan teater harian, konser, dan juga handshake. Faktor tersebutlah yang terkadang membuat penjualan CD dan DVD dari AKB48 mencapai angka yang fantastis, yakni biasanya dalam minggu pertama mencapai satu juta kopi untuk penjualan dalam negerinya sendiri. Pemerintahan Jepang pun melihat potensi yang dimiliki oleh AKB48 tersebut dan menggunakannya sebagai salah satu sarana public diplomacy. AKB48 membantu pemerintahan Jepang dalam menggalang dana untuk daerah korban gempa Tohoku melalui proyeknya “Dareka no Tame ni” dan penjualan single yang berjudul “Kaze Wa Fuiteiru”. Melalui program tersebut juga, Pemerintahan Jepang berusaha memanfaatkan momentum yang ada dengan memilih AKB48 sebagai duta untuk mengundang investor untuk membeli bond dan meringankan beban hutang Jepang. Disisi lain, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh AKB48 pun mengandung lirik yang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari yang ada di Jepang sehingga dapat membantu proses promosi tentang kebudayaan Jepang. Melihat potensi yang begitu kuat tersebut, Pemerintahan Jepang tidak tanggung-tanggung untuk memilih AKB48 sebagai goodwill ambassadors ke Cina, Menteri Luar Negeri Jepang Koichiro Genba memilih AKB48 sebagai salah satu upaya untuk meredakan ketegangan diantara kedua negara. AKB48 pun tidak hanya menyebarluaskan pengaruhnya melalui sister groups di wilayah-wilayah yang terdapat di Jepang, namun Akimoto Yasushi selaku produser utama dari AKB48, memutuskan untuk mendirikan sister group dari AKB48 di luar negeri, yakni di Jakarta(JKT48), Shanghai(SNH48), dan Taipei(TPE48). Proyek tersebut diyakini untuk memperluas pengaruh dari grup idola tersebut di tingkat mancanegara. Untuk pendirian JKT48 di Jakarta sendiri mendapat sambutan yang cukup baik dari pemerintahan Indonesia maupun Jepang. Melalui pertemuan bilateral di bulan September antara Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu dan Miho Takai yang merupakan Wakil Menteri dari Ministry of Education, Culture, Sports, and Science and Technology (MEXT),  telah menyampaikan adanya pertukaran budaya di antara AKB48 dan JKT48 dapat dikembangkan potensinya melalui berbagai saluran di bidang lain.

2 thoughts on “Pop Culture: Revitalisasi Pengaruh Internasional Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s