HNMUN Trip: Perjalanan Impian dan Nekat(Part 2)

Lanjutannya Part 1 nih….

ENG ING ENG…..

Rasanya sangat tepat untuk memulai cerita dari setelah transit di Doha. Sewaktu di Doha, perjalanan yang dijadwalkan berangkat pukul 8 pagi waktu setempat ternyata molor dari jadwal. Terlihat antrian di depan tempat check untuk boarding pass. Awalnya saya agak ketar-ketir karena katanya lagi ada badai salju di JFK Airport. Itupun saya tahu kabarnya dari teman yang kuliah di Boston via mention twitter waktu saya lagi nunggu transit di Doha. Wah semakin khawatir, akhirnya saya memutuskan untuk menanyakan kepada petugas bandara. Ternyata keterlambatan bukan karena permasalahan di New York, tapi memang petugas yang mengurus check in masih sedikit. Setidaknya saya dapat sedikit bernafas lega. Sewaktu memasuki pesawat saya dapat seat paling belakang dan ternyata di sebelah saya itu orang Indonesia. Lumayanlah saya bisa ngobrol-ngobrol sedikit, sebelumnya cuma diem doang 8 jam perjalanan ke Doha. Ternyata orang di sebelah saya itu bekerja di Orlando dan seharusnya pesawatnya itu berangkat sehari sebelumnya tapi karena badai di JFK Airport ia akhirnya harus menginap sehari di Doha dengan fasilitas yang diberikan oleh Qatar Airways. Wah ternyata saya sedikit lebih beruntung karena tidak harus mengalami delay sehari lebih.

Perjalanan ke New York dari Doha memakan waktu sekitar 13 jam, disitu agak mati gaya. Karena udah kebanyakan tidur di flight sebelumnya jadi ya tidur laginya kebangun terus. Agak bosen di perjalanan itu. Tapi akhirnya sampai juga di New York. Yah akhirnya saya menginjakkan kaki di New York. Sewaktu di imigrasi ternyata petugas imigrasinya nanya-nanya. Saya ditanya mau ngapain ke situ, saya jawab aja apa adanya. Terus pertanyaan kedua, saya tinggal di mana di New York. Nah saya bilang saya tinggal di hotel di Long Island. Disitu dia bilang, Long Island itu di sebelah mananya, Long Island itu besar banget. Nah disini saya agak bingung harus jawab apa. Berhubung saya juga gak tau seluk beluk Long Island. Akhirnya saya sebutin aja nama hotelnya, bingung mau jawabin apalagi. Dia kebetulan tanya-tanya sambil ngecek passport saya. Terus tiba-tiba dia bilang, “Oh Long Island City”, dalam hati saya…”akhirnya ngerti juga ini orang”. Begitu saya keluar imigrasi saya langsung ambil bagasi dan keluar bandara. Disana saya disambut sama teman-teman saya yang kebetulan flight nya cuma selang 30 menit dari saya. Begitu keluar bandara, antrian Taksi kuningnya sudah panjang sekali dan dinginnya di luar benar-benar sudah menusuk. Jadi rasanya agak malas kalau harus menunggu antrian itu. Tiba-tiba ada orang yang menawarkan jasa taksi. Kami pikir ya kami gak mau menerima tawaran itu. Tapi benar-benar karena kaget dengan dinginnya New York, akhirnya kami gak pikir panjang dan langsung mengiyakan tawaran tersebut. Dan benar saja ternyata begitu sampai di hotel kami tahu bahwa biaya yang dikenakan oleh taksi tersebut 4 kali lebih mahal daripada biaya taksi normal. Yah mau diapain lagi, bisa buat jadi pelajaran. Akhirnya kami pun memutuskan selama di New York lebih banyak untuk menggunakan subway karena biayanya yang relatif lebih murah dibandingkan taksi. Sekalian penghematan uang saku. Untuk biaya yang harus dikeluarkan untuk tiket subway sendiri itu sekitar US$30 untuk 7 day-passes, nama tiketnya Metro Card.

Normalnya di New York, pastinya menyambangi tempat yang paling terkenal, yaitu Times Square. Agak norak ketika keluar subway dan langsung lihat Times Square. Gemerlap lampu dimana-mana, benar-benar bagus. Tapi satu yang bikin gak tahan, angin Times Square di malam hari itu benar-benar kencang dan dingin. Jadi rasanya ingin masuk ke toko sekitar untuk menghangatkan diri. Malam itu dinginnya New York sekitar -1 derajat. Pastinya kaget buat orang-orang yang biasa tinggal di iklim tropis. Saya sendiri punya alergi dingin, jadi mama saya agak khawatir meninggalkan saya pergi sendirian ke New York yang masih sangat dingin. Tapi yah sugesti aja biar gak sakit. Repot juga sakit di sana, walaupun sudah ada asuransi perjalanan. Rasanya juga rugi kalau sakit selama perjalanan. Total perjalanan saya itu sekitar 10 hari, tidak ada yang terlalu spesial ketika di New York. Di New York hanya diisi dengan jalan-jalan ke Times Square dan melihat Liberty. Oh iya berhubung sehabis badai, jadi akses langsung ke Liberty ditutup sehingga hanya bisa melihat Liberty dari kapal yang ditumpangi. Ya lumayan lah, yang penting udah sampai New York dan sah dengan lihat Liberty. Saya sendiri tidak sempat menjadwalkan kunjungan ke UN Headquarter, ketika ada jadwal kosong itu bersamaan dengan Presidents Day sehingga UN Headquarternya tutup. Mungkin lain kesempatan saya bisa ke sana. Amin…Hehe.

Image

Tanggal 11 Februari, dua hari setelah ketibaan di New York, kami serombongan delegasi ISAFIS memutuskan untuk pergi ke Washington DC. Untuk perjalanan ke Washington DC kami pergi dengan Mega Bus, tiketnya sudah kami pesan ketika masih di Jakarta. Pemesanannya relatif mudah, hanya harus mengunjungi websitenya dan mengikuti prosedur yang tertera dan melakukan pembayaran dengan credit card serta membawa print/email bukti transaksi ketika akan naik bus. Sesampainya di Washington DC saya ditakjubkan dengan indahnya kota tersebut. Saya sendiri relatif lebih suka DC dibandingkan NY. NY terlalu padat dan penuh. Kalau DC benar-benar historical city yang kalau dilihat pemandangannya pun gak akan pernah bosan. Saya mengunjungi beberapa lokasi seperti White House, Abraham Lincoln Memorial Center, dan juga tempat yang tidak kalah terkenal lagi yaitu Georgetown Cupcakes. Beberapa dari kita pasti sudah sering menonton acara DC Cupcakes yang ditayangkan lewat tv kabel. Dan tempat itulah yang dimaksud, rasa cupcakesnya benar-benar enak. Beruntung ketika saya sampai disana tidak ada antrian yang panjang dan malah bisa menikmati duduk-duduk sebentar disana. Soalnya katanya kemarinnya itu antriannya cukup panjang. Saya hanya menghabiskan waktu kurang dari sehari di Washington DC. Berangkat jam 7 pagi dari New York dan sampai di DC jam 12 siang, sudah harus kembali lagi ke New York jam 12 malam. Agak sedikit menyayangkan hanya bisa menghabiskan sedikit waktu di DC. Tapi mungkin kalau ada rezekinya lagi saya bisa menghabiskan waktu lebih banyak di sana. Hhe.

Image

ImageNah sekarang sudah saatnya menceritakan perjalanan di Boston….inti dari perjalanan saya.

Saya dan seorang teman berangkat ke Boston satu hari sebelum konferensi, lagi-lagi dengan menggunakan Mega Bus. Ternyata kami berdua naik bus yang sama dengan rombongan delegasi UI. Wah senang rasanya bisa bertemu teman-teman saya. Perjalanan ke Boston dari New York memakan waktu 4 jam. Perjalanan tersebut tidak terasa panjang karena Mega Bus ini bisa dibilang sangat nyaman.

Saya dengar sebelumnya Boston itu jauh lebih dingin dibandingkan New York. Ternyata benar memang lebih dingin dibandingkan New York. Hari pertama saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Harvard. Tujuan utamanya adalah mencari merchandise Harvard. Hhe. Ya maklum buat oleh-oleh di Jakarta. Saya membeli merchandise Harvard di Coop Store yang menyediakan berbagai jenis merchandise Harvard, mulai dari kaos, sweater, hingga tas.

Nah, besoknya adalah hari dimana konferensi dimulai. Opening Ceremony dilaksanakan sore hari dan disitu saya mulai melihat bagaimana “kegilaan” dari HNMUN. Disitu masing-masing delegasi dari berbagai belahan dunia membentangkan bendera negaranya masing-masing dan meneriakkan nama masing-masing negara. Euphoria begitu terasa, tapi sayang rombongan dari Indonesia terlihat agak terpecah-pecah dan tidak terdengar gaungnya. Konferensi hari pertama dimulai sekitar pukul 7 malam dan berakhir pukul setengah 11 malam. Delegasi ISAFIS dalam country allocation nya diberikan porsi sebagai delegasi the Former Yugoslavian Republic of Macedonia. Saya mendapatkan bagian sebagai single delegate di General Assembly: Ad Hoc Committee on Energy yang membicarakan tentang Energy Development. Konferensi berlangsung selama 4 hari. Dari hari pertama sudah terlihat antusiasme dari peserta, banyak sekali delegasi yang mengangkat placard nya untuk mendapatkan giliran berbicara. Disini bisa dilihat bahwa delegasi-delegasi dari Asia sulit untuk mendominasi, yang mendominasi adalah delegasi-delegasi dari Amerika, Eropa, dan Amerika Latin. Saya sendiri setiap harinya berusaha mendapatkan giliran untuk berbicara dan akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan berbicara walaupun memang jumlahnya tidak banyak. Persiapan saya semenjak dari position paper hingga di tempat konferensi harus diakui agak kurang research sehingga saya tidak bisa membawa ide-ide baru yang dapat membuat saya memiliki peranan penting di suatu blok. Terdapat beberapa arah kepentingan dalam masing-masing blok, ada blok negara-negara Afrika dan negara berkembang lainnya, negara-negara OPEC, dan juga negara-negara maju. Saya sendiri tergabung dalam blok negara-negara Afrika dan negara-negara berkembang lainnya. Selama 4 hari tersebut terdapat perdebatan yang intensif mengenai resolusi mana yang terbaik dan harus menjadi resolusi akhir. Sebenarnya kalau saya lihat secara keseluruhan resolusi yang diajukan tersebut memiliki poin-poin yang sama namun perbedaannya memang bagaimana masing-masing blok meletakkan kepentingannya. Seperti resolusi yang diajukan oleh negara-negara maju belum tentu bisa diaplikasi pada negara-negara berkembang sehingga kebanyakan negara berkembang menolak untuk bergabung dengan resolusi dari negara-negara maju tersebut. Sebenarnya poin yang benar-benar membuat saya kaget adalah ketika proses Working Paper. Blok-blok yang mengajukan working paper telah siap dengan WP yang formatnya sudah terperinci layaknya Draft Resolution. Proses yang sangat cepat >.< Saya yakin beberapa telah menyiapkannya sebelum konferensi. Hhe. Akhirnya pada konferensi tersebut resolusi dari blok saya diadopsi oleh committee karena jumlah votersnya memenuhi jumlah untuk resolusi tersebut diadopsi. Saya sendiri melihat hal tersebut didukung oleh banyaknya delegasi dari negara-negara berkembang disana. Hhe.

Image

Image

Pelajaran lain yang saya ambil selama konferensi berlangsung sangatlah banyak. Bagaimana orang-orang tersebut memberikan pandangannya serta speechnya dengan cara yang diplomatis dan juga bagaimana public speaking yang baik. Disana saya juga melihat ternyata orang-orang Venezuela yang mengikuti kompetisi disana memiliki kemauan yang sangat tinggi untuk memenangkan award. Usut punya usut ternyata pemerintahan Venezuela akan memberikan lapangan pekerjaan di pemerintahan bagi mereka yang berhasil menang di HNMUN. Wah suatu reward yang menurut saya sangat mentrigger para mahasiswa Venezuela untuk memenangkan award disana. Beberapa universitas yang mendominasi dalam memenangkan award adalah Yale, Univesity of Chicago, Columbia University, George Washington University dan juga US Military Academy at West Point. Sayang sekali mahasiswa Indonesia tidak ada yang berhasil menyabet penghargaan disana. Kalau saya lihat sih disana mahasiswa Indonesia tetap berusaha membawa identitas universitasnya masing-masing. Prestise universitas disini masih sangat dipegang oleh perwakilan dari Indonesia. Alangkah lebih baiknya jika perwakilan-perwakilan mahasiswa Indonesia mengadakan latihan terpusat, sehingga yang diperjuangkan disana bukanlah lagi nama universitas, melainkan prestise Indonesia untuk mendapatkan penghargaan di kompetisi MUN paling prestigious tersebut.

Image

Oh iya, sewaktu di Boston saya sempat menghabiskan waktu dengan teman saya yang berkuliah di MIT dan Wesleyan. Teman saya, namanya Eki kebetulan berkuliah di Wesleyan yang berlokasi di Middle Town, Connecticut. Dia sengaja ke Boston untuk bertemu dengan saya. Hhe senangnya punya teman yang baik. Satu lagi adalah Romy, dia kuliah di MIT, kebayang kan seberapa pinternya dia. Kebetulan keduanya adalah teman saya waktu di SMA 8. Mereka berdua datang ke Boston Park Plaza untuk menemui saya. Romy membawa seorang temannya yang juga anak Indonesia yang berkuliah di MIT. Ternyata setelah ditanya lebih lanjut, hanya mereka berdua anak Indonesia yang kuliah di MIT untuk angkatan 2011. Pertamanya, setelah dari Boston Park Plaza kami pergi ke restoran di China Town. Eki bilang dia mau makan makanan Indonesia, berhubung gak ada jadi Romy menawarkan makan di restoran Malaysia. Ya ternyata makanannya enak juga. Hhe. Setelah itu kami memutuskan untuk naik subway ke MIT dan jalan-jalan disana. Di MIT saya diajak menelusuri isi MIT. Antusias, saya masuk ke dalam gedung perkuliahan di MIT. Layaknya di TV-TV sih. Tapi aura jenius rasanya melingkupi area MIT tersebut. Disana kami memutuskan untuk mengobrol di student center nya, disana pembicaraan kami tidak jauh dengan pertanyaan saya tentang kehidupan mereka disana, bagaimana konferensi saya, kedepannya mereka mau melanjutkan kuliah dimana, disana kerja sambilan apa saja. Obrolan yang sangat menarik untuk menghabiskan malam sebelum akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke hotel dan berpisah dengan mereka.

Image

Sebelumnya juga saya sempat tour di Harvard. Ya seperti biasa, keliling-keliling Harvard dan diberitahu detail tentang lokasi-lokasinya. Informasi penting yang saya tangkap selama tour di sana adalah bagaimana mahalnya tuition fee untuk kuliah disana dan bagaimana angka pelajar asing sudah mulai banyak, walaupun memang paling banyak adalah dari Canada. Jumlah pelajar asing sendiri jauh lebih banyak pada tingkat Master.

Image

Kira-kira begitulah perjalanan saya selama di Boston.

Hari terakhir sebelum pulang, saya menghabiskan waktu sendirian di New York karena teman saya sudah kembali lebih dulu ke Jakarta dan ada juga yang pergi ke Chicago. Akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Madison Avenue dan Times Square, menghabiskan waktu sendirian dengan bermodalkan ingatan saya yang cukup minim tentang rute subway. Subway di New York itu rutenya sangat sulit. Dalam satu stasiun saja ada banyak rute. Jadi jangan heran kalau sering salah rute. Hhe.

Sewaktu pulang tidak ada yang spesial. Selain saya harus transit di Doha selama 14 jam. Untung saja airport Doha cukup nyaman untuk beristirahat, selain itu karena waktu transit saya yang lebih dari 5 jam, jadi saya mendapatkan voucher makan dua kali, yaitu untuk dinner dan breakfast. Hehehehe lagi-lagi Alhamdulillah. Di Doha saya hanya mengeluarkan uang untuk membeli oleh-oleh coklat kalau saja yang dari New York masih kurang. Tapi ternyata ada hal yang spesial lainnya……..SAYA PULANG DARI DOHA KE JAKARTA NAIK KELAS BISNIS. Entah kenapa, sewaktu saya mau boarding check, tiket saya diganti. Saya pikir cuma diganti karena sudah banyak coretan, ternyata begitu di dalam pesawat saya lihat nomor kursinya sudah diganti. Dan saya lihat nomor yang tertera adalah nomor 4 yang setahu saya adalah kelas bisnis. Dan ternyata benar saja saya dapat kelas bisnis, saya sempat ragu berulang kali karena saya ingat bahwa saya beli tiket promo. Sehingga saya dapat tiket paling murah dan 14 jam saya di Qatar pun tidak difasilitasi hotel. Jadi kenapa saya dapat kelas bisnis. Entah anugrah apa yang tiba-tiba jatuh. Ternyata benar saya dapat kelas bisnis. Pelayanan di kelas bisnis sangatlah mewah. Benar-benar norak ketika ada di pesawat. Setiap fasilitas dan makanan yang ada saya foto satu persatu. Hhe maklumlah norak naik kelas bisnis untuk penerbangan Internasional….

 

DAN YAK AKHIRNYA SEGITU SAJA PERJALANAN PENUH KESENDIRIAN SAYA DI PAMAN SAM.

Benar-benar penuh tantangan dan nekat

Tapi yang namanya impian, sampai kapanpun pasti akan dikejar

Kesempatan tidak akan datang dua kali🙂

4 thoughts on “HNMUN Trip: Perjalanan Impian dan Nekat(Part 2)

  1. wahh, gilakk. kakak keren benget!!!, jjadi termotivasi ni buat semangat di HI. kerennnn!!!, kak , kalo sempat posting foto2 kakak dong yg di HNMUN, penasaran kak!! hhhheee.

  2. mantap..bgs ceritanya..saya jg pengen kesana jalan2..mudah2an thn depan bisa ke sana…nice gan…
    btw, ada yg masih pake kartu nama dr kertas? ayo ganti dgn kartu nama online, taruh/embed kartu nama di blog/website dgn mudah, buat dan bertukar kartu nama di berkenalan.com: https://berkenalan.com

  3. Halo, aya! Boleh minta kontak temannya yang ada di MIT? Saya summer ini mau ke boston, siapa tau ada yang bisa guidein selama disana. Hihi.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s