Polemik di Mata Seorang Maba

Saya baru saja memasuki dunia baru, dunia perkuliahan. Saya seorang mahasiswa baru(Maba) Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik(FISIP), jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Begitu masuk saya langsung menemukan kehidupan para mahasiswa. Banyak jenis mahasiswa yang sudah saya temukan begitu masuk. Mahasiswa yang meluap-luap ketika sedang berorasi, mahasiswa yang terlihat santai, mahasiswa yang penuh wibawa, dan mahasiswa yang penuh kharisma serta pengalaman dalam mengikuti berbagai macam perlombaan. Saya juga dihadapkan pada banyak sekali realita kehidupan kampus. Tapi seperti yang diketahui sekarang, isu yang paling menarik di berbagai media massa nasional, kontroversi pemberian gelar Doktor Honoris Causal oleh Rektor UI kepada Raja Saudi Arabia. Saya mahasiswa baru, lalu bagaimana saya harus menanggapi isu ini?

Jujur sudah banyak sekali berita yang saya baca atau saya lihat di berbagai media massa. Sangat penuh pro kontra, namun didominasi oleh kontra. Sudah banyak sekali tokoh yang memberikan pendapatnya, sudah banyak sekali komentar yang diberikan. Kalau dilihat di berita-berita tersebut, sepertinya posisi Pak Rektor benar-benar sudah terpojokkan. Saya mahasiswa baru. Saya belum mengenal semua elemen UI. Bahkan seorang rektornya. Saya hanya tahu satu hal, Pak Rektor bernama Prof der soz Gumilar R Somantri. Rektor, selayaknya seorang kepala sekolah, petinggi institusi pendidikan. Bahkan saya tidak tahu darimana Pak Rektor berasal, dari fakultas apa. Saya baru tahu ketika polemik ini menyebar luas, ya, saya baru tahu kalo Pak Rektor ternyata berasal dari fakultas saya sendiri, FISIP. Saya masih benar-benar awam, masih butuh waktu untuk mempelajari seluk-beluk kampus perjuangan.

Polemik ini benar-benar sedang hangat di permukaan. Twitter dipenuhi dengan berbagai pendapat yang dikeluarkan oleh para senior. Rata-rata tak hanya mengungkit tentang penyerahan gelar doktor tersebut namun juga turut mengungkit berbagai permasalahan yang sudah mengakar di dalam tubuh kampus itu sendiri. Birokrasi yang sulit dan terkesan dipersulit serta aspirasi yang tak kunjung tersampaikan karena berbagai hal berbelit. MWA atau berbagai organisasi kemahasiswaan sudah berusaha untuk menyampaikan. Itu yang saya dapatkan dari berbagai tweet atau bahkan livetweet. Kenyataan, saya masih buram sekali dengan semuanya. Rasanya belum terlihat garis nyatanya. Lagi-lagi saya masih awam.

Lalu bagaimana saya harus menanggapinya? Harus memihak pihak yang mana?

Bingung. Jujur itu jawaban saya. Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa harus bingung. Sudah banyak senior yang sudah lebih berpengalaman dan dosen-dosen yang sudah jauh lebih berpengalaman dan bertahun-tahun mendedikasikan dirinya untuk kampus tercinta mengeluarkan berbagai komentar yang seharusnya bisa saya timbang sendiri.

Tapi saya tidak ingin melihat sesuatu hanya dari satu sisi atau dua sisi. Saya ingin melihat dari banyak sekali sisi sampai menemukan akar permasalahannya, sampai menemukan titik terang solusi yang sebenarnya.

Rasanya saya belum pernah mendengar pendapat atau komentar jelas dari rektorat. Ya memang sudah beberapa komentar di release. Tapi saya belum puas. Informasi yang saya dapatkan semua nya dari pihak yang kontra dengan rektor atau rektorat. Mengingat ilmu jurnalistik, harus menyuguhkan informasi yang berimbang. Saya disini belum mendapatkan info yang berimbang. Beberapa media mengatakan bahwa pihak rektorat menolak menjadi narasumber dari beberapa talkshow. Saya sendiri cukup kecewa. Saya butuh info selengkapnya. Saya yakin pihak rektorat punya alasan dibalik pemberian tersebut. Saya yakin bukan hanya satu atau dua alasan. Info yang diberikan dari pihak yang kontra dengan rektorat sudah sangat lengkap dan sudah cukup meyakinkan.

Tapi sekali lagi, saya belum puas.

Saya butuh semua informasi, saya butuh informasi yang berimbang. Saya butuh melihat dari berbagai sisi. Saya ingin melihat hingga akar permasalahannya. Saya ingin menilainya dengan daya pikir saya sendiri, mana yang benar dan mana yang salah. Tidak serta-merta ingin menjudge salah satu pihak, pihak manapun itu. Saya ingin menjadi seseorang yang objektif. Melatih kemampuan saya dalam berpendapat dengan dasar yang benar-benar saya yakini.

Saya, seorang mahasiswa baru, inilah harapan saya🙂

4 thoughts on “Polemik di Mata Seorang Maba

  1. Tragedi pemberian gelar ke raja arab saudi ini bisa dibilang cuma udang di balik batu. Semua orang cuma bisa liat batunya doang (pemberian gelar) tapi gak tau udangnya itu kayak gimana. Biasanya yang kayak begini diinterpretasikan negatif, tapi apapun maksudnya, pemberian gelar itu sendiri sudah menyalahi wewenang dan undang-undang…

  2. Yah… saya maklum kalau sampeyn masih bingung…
    Benar, pemberian gelar itu murni ada udang di balik siomay🙂
    Sebagai seorang dosen, saya tahu persis aturan main soal gelar HC, baik di perguruan tinggi lokal, maupun di luar negeri. Barangkali ada sedikit beda di sana sini, namun “ideologi” dan argumen-nya pada umumnya sama di semua negara/universitas. Kesimpulan saya, pemberian gelar itu sudah “out of control”. Patut diduga ada pesan sponsor di dalamnya, meski kita tidak tahu apa dan bagaimana wujud pesannya. Kalau ada yang mendebat saya dengan mengatakan: “Jangan berburuk sangka…”, maka jawaban saya simpel saja: “Mari juga jangan berburuk laku… supaya jangan ada buruk sangka.”
    Demikian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s