Sekolah vs Bimbel (?)

Semenjak menduduki bangku kelas XII sampai lulus banyak sekali hal yang diperbincangkan. Terutama mengenai seberapa besar peranan Bimbingan Belajar(Bimbel) terhadap kesuksesan masing-masing siswanya. Setiap bimbel pun menggencarkan promo kesuksesan atas masing-masing anak didiknya. Tapi disisi lain peranan sekolah mulai dikesampingkan. Banyak sekali siswa yang mengaku lebih efektif belajar di bimbel dibandingkan di sekolah sendiri. Selain itu siswa bisa menghabiskan waktu hingga malam sekali di bimbingan belajar untuk sekedar tambahan atau menyelesaikan materi yang belum benar-benar dipahami. Tapi apakah benar peranan sekolah sudah tidak terlalu banyak? Apakah bimbel sebaik itu hingga semua orang mempromosikan keunggulan bimbel masing-masing?

Menurut saya, anggapan bahwa bimbel memegang peranan yang sangat besar dalam keberhasilan seorang siswa itu salah. Bukan saya seorang yang anti bimbel, saya sendiri mengikuti bimbel semenjak SD nonstop. Menurut saya bimbel saya, Bintang Pelajar memegang peranan juga dalam keberhasilan saya dalam meraih peringkat tinggi selama di bangku sekolah. Tapi sebenarnya, sekolah lah yang memegang peranan sangat besar? Kenapa begitu? Karena sekolah membentuk pola belajar setiap siswanya. Saya sendiri di SMA Negeri 8 Jakarta sangat merasakan peranan sekolah. Terutama lingkungan belajar sekolah yang sangat mendukung. Semua itu tidak dapat didapatkan di bimbel. Pembentukan pola belajar yang mandiri itu karena sekolah. Tanpa pengaruh lingkungan sekolah, semua tidak akan bisa didapatkan. Apa bisa mendapatkan semua itu dengan menghabiskan beberapa jam di bimbel. Hampir separuh dari waktu kita dihabiskan di sekolah.

Bimbel itu hanya pelengkap saja, ibarat sebuah hidangan, dessert, bukan main course. Main course itu sekolah, yang utama. Bimbel mungkin punya strategi tersendiri untuk mempersiapkan murid-muridnya dalam menghadapi ujian terutama ujian masuk perguruan tinggi. Sekolah pun punya caranya tersendiri agar siswanya berhasil menembus perguruan tinggi terutama sukses dalam Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah. Menurut saya beberapa bimbel hanya menekankan pada kiat sukses SNMPTN. Disinilah peranan sekolah yang sangat berpengaruh dalam menyiapkan siswanya sukses Ujian Nasional. Ujian Nasional sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata, termasuk Ujian Akhir Sekolah. Siapapun yang tidak lulus dari keduanya tidak akan mungkin bisa masuk perguruan tinggi.

Materi yang diujikan dalam Ujian Nasional dan SNMPTN itu memiliki tingkat kesulitan yang sangat berbeda. Baik bimbel atau sekolah memberikan caranya tersendiri  dalam persiapan. Kembali lagi pada fakta, bimbel hanyalah pendukung sekolah. Namun, keduanya berusaha untuk mendung satu sama lain agar tidak terjadi perbedaan yang membuat siswa malah bingung.

Tidak ada alasan untuk seorang siswa memboloskan diri dari sekolah untuk bimbel. Bimbel punya waktunya tersendiri, setelah pulang sekolah. Lelah? Risiko yang diambil ketika memilih untuk mengikuti bimbel. Sekolah tidak bisa dipandang sebelah mata sama sekali.

Semua tergantung pada pilihan masing-masing, risiko sudah dipertimbangkan ketika menentukan pilihan sendiri.

5 thoughts on “Sekolah vs Bimbel (?)

  1. kalo menurut saya ergantung dari sekolahnya juga ya, mungkin wajar saja kalo anda bersekolah d SMA 8, secara pandangan masyarakat SMA 8 juga sudah di kenal ‘bermutu” dalam artian lebih dari cukup dalam memberikan materi. tapi bagaimana dg mereka yg bersekolah d sekolah2 yang ‘standar’ dan kurang memberikan materi ttg proses belajar? pasti peranan bimbel akan sangat terasa d bandingkan sekolah mereka

  2. kualitas pendidikan di tiap sekolah memang beda. jika kita bercermin dari sistem pendidikan bangsa kita yang berorientasi ke hasil daripada proses, tak ayal bimbel memegang peranan penting daripada sekolah. seperti kita ketahui, Ujian Nasional menjadi patokan keberhasilan pendidikan suatu sekolah atau siswa. sementara di sekolah, kita tidak di ajar untuk menjawab soal2 dengan ringkas dan mudah. di bimbel-lah kita mendapatkan itu semua. di sekolah, guru cenderung hanya memberikan tugas, menyuruh kita membaca buku, atau bahkan yg lebih miris, hanya menyuruh kita mengerjakan LKS. sedangkan di bimbel, tutor (tenaga pengajar) memberikan kita penjelasan atas materi-materi sekolah dengan metode yang mudah dicerna dan bagaimana teknik-teknik mengerjakan soal dengan benar, cepat dan tepat. (ini adalah gambaran kecil pendidikan di Makassar yang saya alami).

  3. Mohon maaf bahwa dengan bermodalkan sekolah doang, seorang siswa tidak akan bisa lolos SNMPTN/UMB. (UN sih pasti lolos, soalnya itu ujian politis. Kepala sekolah, Kadis Pendidikan, Kanwil Pendidikan, walikota, hingga gubernur berkepentingan dengan UN; harus membentuk tim “sukses” demi mendongkrak kelulusan 99% sekolah masing-masing).

    Di Bimbel-lah siswa mendapat pemahaman tentang materi dan soal. Di sekolah, sih, maaf saja… hanya 20% guru yang serius mengajar… selebihnya mereka cuma menyelesaikan SAP/KTSP mereka. Apakah siswanya mengerti atau tidak, EGP… Nah, di Bimbel, kesuksesan siswa itu elementer, sebab punya nilai jual komersial buat mereka dalam berbisnis…

    Apakah, tanpa sekolah sama sekali seorang siswa bisa menembus perguruan tinggi negeri bergengsi? Jawabannya: Bisa!

    Demikian menurut saya…

  4. Maaf, saya sangat tidak setuju dengan komentar diatas. Saya sukses masuk HI UI tahun ini tanpa bermodalkan bimbel sama sekali dengan memaksimalkan materi2 yang saya dapat dari sekolah.
    Untuk penulisnya salam kenal ya kak, maba HIUI12😀

  5. @Sensei JoE
    sepertinya pernyataan anda harus dikoreksi ulang, terutama kata kata bahwa tanpa bimbel seorang siswa tidak akan bisa lolos snmptn/umb, saya adalah seorang murid lulusan salah satu sekolah swasta di jakarta dan sekarang saya berhasil lolos snmptn 2012 jurusan HI di salah satu perguruan tinggi negri di jakarta dan saya mendapatkannya TANPA BIMBEL, menurut saya semua itu bergantung kepada pribadi masing masing siswa, benar kata penulis blog, sekolah tetap yang utama dan tempat bimbel hanyalah pelengkap dari sekolah, tanpa sekolah? tentu saja kita tidak bisa menembus perguruan tinggi negri, bagaimana caranya menembus perguruan tinggi negri bergengsi tanpa sekolah? saya rasa itu mustahil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s