Remaja Labil?

Kayaknya kata-kata remaja labil ini lagi sering-seringnya digunakan. Banyak orang men-judge orang lain kalau dia itu remaja labil, tapi tanpa disadari bisa saja, si orang itu juga labil. Loh kenapa? Ya, masa-masa remaja ini memang kebanyakan diisi untuk sesuatu yang berbau bersenang-senang. Toh ketika menghadapi masalah yang sulit, terkadang susah untuk menghadapi realita yang ada. Hasilnya, ya jadi labil. Tidak jelas arah dan tujuan, berubah-rubah terus pilihannya. Emosi? Kecewa? Senang? Bahagia? Suka tiba-tiba berganti begitu saja….siapapun bisa labil kalau memang tidak ada acuan yang jelas.

Terus apa asiknya saya ngebahas remaja labil? Karena saya sedang labil….

“loh kok lo labil sih?”

“Please ini bukan salah gw dan pastinya bukan salah temen-temen gw”

Ok stop dulu lawakan tidak penting ini. Kenapa saya labil? Sejujurnya tidak tahu ini bisa dikategorikan sebagai labil atau tidak. Tapi kalau mengutip kata-kata yang sangat populer saat ini, ya saya pakai saja kata “labil”. 

Saya sedang dalam masa-masa yang seharusnya sangat serius, bahkan kalau perlu harus rajin tingkat tinggi. Kenapa begitu? Kelas XII, semua orang bertransformasi menjadi rajin. Semua orang berubah dalam waktu yang sangat cepat karena mereka ada maksud dan tujuan. Masuk PTN atau PTLN favorit dengan jurusan yang sesuai dengan keinginan. Nah saya sendiri, kalau niatan untuk rajin…..sudah ada, tapi sedikit. Kemalasan tingkat super sudah menggeser………niat yang hanya sedikit itu. 

Lalu, apalagi? 

“Kenapa lo tanya gw?”

“Lah, lo yang cerita…..labil lo?”

“Oh iye…..”

Ok, intermezzo sedikit saja. 

Awalnya, ketika masuk jurusan IPS, saya memutuskan untuk mengejar cita-cita dengan masuk Hubungan Internasional UI. Lalu kemudian, cita-cita semenjak SMP untuk kuliah di Malaysia mulai membakar. Ya, dan pilihan untuk masuk jurusan Bisnis di Universiti Malaya pun berkobar-kobar. Rasanya waktu itu sudah tidak ada yang menggantikan tujuan utama itu. Tapi…..Tapi……

“Loh masih ada lagi?”

“Iye sabar, ini lagi cerita……”

Tapi tiba-tiba semenjak saya aktif mengikuti berbagai lomba ekonomi, termasuk OSK(Walaupun hanya sampai tingkat OSK), rasa ingin masuk Ilmu Ekonomi benar-benar muncul karena pada saat itu saya merasakan bahwa ekonomi sangat seru untuk dipelajari(ini seriusan bukan bercanda, ekonomi memang seru). Rasanya sama seperti ingin kuliah di Malaysia, ya akhirnya saya menetapkan dua pilihan. Kalau tidak Ilmu Ekonomi UI, ambil Economics di UM. Nah TAPI!

“Woi lo tapi mulu deh……”

“Namanya juga lagi labil wei…..sabar lagi puasa”

 Tapi akhirnya karena suatu dan lain hal dimana saya harus mendalami ekonomi secara mendetail. Saya pikir, ini bukan jalan saya. Saya bukan seorang yang analisis. Saya lebih suka hal-hal yang dipelajari dalam Hubungan Internasional. Saya lebih suka berdiskusi dan berbicara daripada harus analisis ekonomi seperti itu. Sebenarnya ini juga hanya pandangan saya sebagai orang awam. Karena sepertinya kalau masuk HI pun harus analisis. Tapi benar-benar pada saat itu saya berpikir IE bukan jalan saya. 

DAN AKHIRNYA

Sekarang saya memutuskan untuk dapat masuk Hubungan Internasional……baru pilihan keduanya Ilmu Ekonomi. Semoga ini saat terakhir menjadi labil. Semoga juga, semakin rajin! Amin…

“Lah udah nih ceritanya?”

“Udah lah, capek ngelabil mulu cuy…..”

3 thoughts on “Remaja Labil?

  1. labil remaja itu maksudnya ga gitu.. kalo itu mah emang masih cari jati diri kalo gede mau jadi apa… labil remaja yang sering dibilang orang itu lebih ke arah sifat dan tingkah laku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s