Kisah Persahabatan dengan Negara Serumpun

stock vector : Friendship

Masa-masa indah masih teringat jelas ketika saya pergi ke Malaysia Maret tahun 2009. Bertemu dengan kawan-kawan saya di Malaysia, kawan-kawan yang untuk saya sendiri terlalu baik kepada seorang asing yang belum pernah ditemui secara langsung. Ya, tidak salah lagi, saya berhasil berkenalan dengan mereka melalu sebuah fansite.

Ketika saya datang ke Malaysia saya disambut dengan begitu ramah oleh mereka. Bahkan mereka menjemput saya di tempat saya menginap dan mengajak saya menghabiskan semalam suntuk di Cheras, daerah dimana sang idola yang membuat kami para pelopor fansite berkumpul. Kami pun ditemani dengan idola yang bagi kamiĀ adalah segalanya. Segalanya? Kami bukan mendewakan dia, tetapi karena ialah kami berkumpul dan merasakan kebersamaan persahabatan beda negara. Saya minoritas, sangat minoritas, saya sendiri seorang Indonesia tapi mereka sangat menghormati saya dan begitu antusias mengenai Indonesia.

Tapi ketika isu perseturuan antara Indonesia dan Malaysia bangkit kembali dan mencapai pada klimaksnya. Saya merasakan sebagai orang yang paling disakiti. Sangat tersakiti dan tidak berdaya. Ketika orang mencaci dan memaki Malaysia di hadapan saya, hati saya bagaikan teriris pisau. Suatu pandangan saya, kebanyakan masyarakat Indonesia menilai bahwa seluruh warga Malaysia ikut ambil andil dalam kericuhan ini. Tapi pada kenyataannya tidak semua orang tahu soal kericuhan ini. Memang harus diakui bahwa kebebasan pers di Malaysia tidak seperti di Indonesia. Tapi apakah masyarakat dewasa ini juga tidak berpikir bahwa kita sedang termakan oleh setiap berita yang ada di media. Media mengakui bahwa berita yang mereka sajikan terlalu menjadi provokator. Saya tahu bahwa tidak semua orang Malaysia seperti itu, saya merasakannya sendiri. Mereka tidak mau akan adanya keributan. Hanya ada satu kata yang mereka dan seharusnya kita inginkan, damai. Perang bukan solusi tapi hanya memperburuk keadaan. Hanya ada dua pilihan, menang atau kalah?

Saya jabarkan kedua option ini, option pertama adalah menang. Proses untuk menuju kemenangan pasti harus melalui suatu proses yang sulit dan akan memakan banyak korban sipil yang tidak bersalah. Menang memang menang, tapi bayangkan korban sipil yang akan berjatuhan. Option kedua, kalah. Sudah memakan korban sipil akan menjatuhkan harga diri juga. Kita yang meminta untuk perang, tapi kita yang kalah. Harga diri bangsa dan negara sudah tidak akan ada lagi, pandangan rendah dari dunia Internasional akan semakin menjadi. Lagipula klaim budaya bukan sebuah hal besar, banyak budaya asing yang sudah bagaikan budaya sendiri bagi kita. Apakah Inggris marah ketika sepakbola yang mereka pelopori dimainkan di seluruh negara di dunia dan bahkan menjadi bagian promosi negara tersebut. Tidak bukan? Disisi lain, dengan adanya klaim budaya, kita akan menyadari seberapa pentingnya budaya kita dan akan berusaha mempertahankannya dengan sekuat tenaga. Dengan konflik ini, batik diakui oleh UNESCO. Penyadaran dalam skala besar terhadap bangsa kita ini. Ayo jangan tersulut api dulu. Mereka saudara kita, mereka sahabat kita. Coba lihat dari segala sisi, pasti ada sisi positif dari mereka!

4 thoughts on “Kisah Persahabatan dengan Negara Serumpun

  1. rani setuju! kenapa kita nggak membahas ini aja ya buat artikel entar? kebanyakan media kan mengambil sudut pandang “ganyang malaysia” terus kan, mending tulisan kaya gini kita publish mumpung masih hot hahaa.

  2. saya juga tidak terlalu ambil pusing dengan banyaknya hujatan terhadap saudara serumpun kita itu…
    bagi saya kita lah yang perlu bnyk interospeksi diri dan belajar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s