Cukup, Saya Lelah dengan Segala Konflik!

Indonesia

Indonesia-Malaysia, masalah ada lagi…

Orang Indonesia terus menghujat Malaysia

Saya disini seorang bangsa Indonesia ada sedikit rasa kecewa juga terhadap Malaysia

Tapi ada sebuah ganjalan besar yang ada di dalam diri saya

Namun jika saya mengungkapkannya, mungkin saya sudah dijauhkan oleh khalayak ramai

Mungkin saya akan dikira sebagai pembangkang negara sendiri

Tapi sebenarnya tidak

Saya rasa, sudah cukup saya menjadi patung, sudah cukup saya merasakan panas di dalam hati, lelah…sudah sangat lelah. Saya rasa ungkapan dibawah ini adalah sebuah ekspresi dari segala kelelahan akan konflik yang adaApakah Anda tahu saya punya sangat banyak teman di Malaysia dan beberapa saudara sepupu di sana? Saya berkali-kali bertanya kepada mereka apakah mereka mengetahui mengenai segala konflik klaim budaya ini. Mereka jawab tidak.

Kesimpulan saya, hanya sedikit saja masyarakat Malaysia yang ingin menjadi pengadu domba dan imbasnya sudah sangat besar. Apa kita tidak merasa bahwa kita sudah terperangkap di dalamnya. Terperangkap dalam sebuah skenario kebencian. Apakah kita akan membiarkan mereka tertawa sementara kita disini terbakar oleh emosi yang ada.

Apakah anda tidak  sadar bahwa banyak orang yang tidak berdosa terkena imbas dari segala konflik yang ada. Mereka yang ingin menjalin tali persaudaraan dan persahabatan harus diputuskan oleh emosi masing-masing. Apa masalah hanya bisa diselesaikan dengan kemarahan? Atau malah karena semua orang memutuskan untuk berperang, kita harus berperang? Apa tidak ada solusi lain? Lagipula, apa kita yakin kita akan menang dengan mudah? Kalaupun mudah pasti banyak orang sudah menjadi korban. Apa kita tidak pernah berpikir nasib mereka? Egois kalau memang begitu.

Me and Kak Saida

Saya juga disini ingin membagi kebaikan teman-teman Malaysia saya. Izan, Ejay, Rizuana, Shidi, Ejump, Putri, dan masih banyak lagi. Mereka saya temukan dalam sebuah situs fansite, SaidaFC. Mereka menerima saya dengan ramah dalam situs itu, walaupun saya hanya sendirian, seorang Indonesia. Ketika mereka mengadakan perkumpulan pertama, mereka rela menelpon saya hanya untuk membiarkan saya berbicara dengan Saida. Ketika saya ke Malaysia awal tahun ini, mereka sangat menyambut saya. Saya disambut oleh kebaikan mereka, saya dijemput oleh Kak Izan dan diajak bertemu dengan beberapa orang lainnya. Bahkan jarak yang ditempuhnya untuk menjemput saya pun cukup jauh. Dengan kereta cepat dia menjemput saya. Saya diajak makan-makan, bercengkrama dan menghabiskan waktu bersama mereka bahkan bertemu Saida yang merupakan salah satu orang yang membuat kami semua bertemu karena ia. Karena kami semua pembangun fansite nya.

Saya juga punya impian untuk berkuliah di Universiti Malaya. Sejak SMP saya sudah memutuskan bahwa saya punya satu tujuan, kuliah di Malaysia. Dan saya menetapkan tujuan dan harapan saya di Universiti Malaya ketika saya berlibur disana. Bahkan saya sudah sempat ke sana dan bertanya-tanya bagaimana proses untuk dapat kuliah disana. Salah satu jurusan yang ingin saya pilih adalah perbankan syariah. Saya sangat tahu bahwa ilmu perbankan syariah di Malaysia sudah sangat maju, saya berniat untuk bersekolah disana dan saya akan kembali ke Indonesia untuk memajukan perbankan syariah di Indonesia.

Universiti Malaya

Apakah semua harapan saya itu harus pupus oleh konflik ini? Sekarang mahasiswa baru Malaysia sudah tidak diterima untuk kuliah di UNDIP. Lalu apakah saya juga akan menjadi korban selanjutnya? Korban dari konflik yang ada. Korban karena impian dan harapannya dalam menuntut ilmu harus dipupuskan oleh emosi. Apakah realistis? Apakah saya harus menahan impian? Semua orang berhak punya impian dan merealisasikannya. Apakah saya tidak? Karena memang konflik antara negara saya yang sangat saya junjung tinggi dengan negara dimana saya ingin menuntut ilmu tetap berkepanjangan.

Saya disini bukan egois. Tapi coba pikirkan orang lain yang punya impian sama juga dengan saya. Kalau memang siapapun itu tega membuat harapan saya dan orang-orang lain yang bertujuan sama seperti saya harus pupus dan merubah sebuah orientasi impiannya hanya dalam sesaat. Coba anda pikirkan ketika anda harus merubah impian anda sejak lama, dalam waktu sekejap. Sulit bukan? Kalau memang sulit, pahamilah…Kalau memang tidak mau memahami, selamat anda telah menghilangkan harapan salah satu orang yang hendak memajukan negaranya……dan orang-orang lainnya yang memiliki harapan sama seperti orang tersebut.

13 thoughts on “Cukup, Saya Lelah dengan Segala Konflik!

  1. Setuju banget….g semua orang Malaysia tuh mencuri budaya kita,,,g semua orang malaysia menyiksa TKI2…. saya jg punya bnyak teman malaysia yg saya dapatkan dari website Siti Nurhaliza.. mereka semua baik2,,, so g usah lah kita emosi karna kelakuan para tangan2 tidak bertanggung jawab yg ingin memecahkan 2 negara serantau ini…. I LUPH U PULL INDONESIA…4EVER,,,,

  2. semalam rani udah nulis komen disini tapi nggak ke submit jadi rani tulis lagi.

    Setelah baca tulisan aya rani jadi ngerti. Dulu rani juga selalu berusaha buat nggak su’uzan dan bilang dalam hati kalo orang malaysia yang jahat sama kita juga cuma dikit tapi lebay gitu di eksposnya. Tapi aya benar, rani jadi ikut terprovokasi untuk melahirkan rasa kesal dari orang-orang yang sedikit itu. Padahal kalau dipikir dengan logika juga, kalo rani cari grup/forum/blog anti-malaysia dan anti-indonesia, anti-indonesia pasti kalah jumlah dengan beda yang saaangat signifikan. Setelah baca tulisan aya.. Rani baru kepikir lagi itu kenapa.

    Tapi rani jadi sadar juga ya, kalo kita juga nggak ada pembelaan buat tindakan malaysia mengambil pulau-pulau kecil kita dan kebudayaan-kebudayaan yang mereka klaim. Rani rasa kekecewaan rani adalah bukan dari hinaan orang malaysia atau sebagainya, bukan juga karena ada orang yang jahat sama tki, tapi kenapa pemerintahnya tidak berusaha meluruskan masalah kita itu. Rani sih peduli amat orang negara lain bilang kita apa tapi kalo tanah dan budaya bangsa diambil itu harga diri kita ya.

    Kurasa yang salah adalah orang2 yang merasa orang malaysia jahat karena sedikitnya yang mereka tahu. Imbasnya jadi undip jadi gitu. Padahal menurut aku bukan orang sana yang salah.

    Ah. Penggunaan kata rani jadi nggak efektif kan maaf ya. tapi ya, aku harap yang kamu tulis nggak terjadi dan aku juga ngarep konflik ini selesai. Tanpa masing2 pihak kehilangan apapun/ tersisa rasa dendam apalagi pakai perang.

    Memang sudah sulit benar membenarkan persepsi orang indonesia yang sudah mencap malaysia tega sama indonesia, mengingat yang mengompori adalah media massa dan orang-orang banyak. Tapi semoga bangsa kita cukup dewasa untuk tidak menghancurkan impian-impian generasi muda, termasuk kamu sama aku.

    Rani suka sama indonesia dan nggak enak hati kalo kita di jahati. Rani juga nyadar kalo rani jadi orang malaysia rani juga bakal merasa hal yang sama. Rani memang jahat kalo rani terkesan bashing di post blog rani, tapi seperti yang rani bilang juga, rani nggak maksud. Sebenernya yang mau rani tulis cuma kekesalan rani sama siapapun yang mengganti lirik indonesia raya seenak perut dan kita jangan sampai perang, tapi rani malah kebawa suasana, hehe.

    Semangat. Mari berharap yang terbaik. Kalo ini fb rani kasih like. Tulisan aya inspiratif dan rani harap yang baca banyak. Supaya orang-orang nggak lebay lagi kesel sama yang nggak harus dikeselin. Yey seneng nggak tuh rani like wahahaa. (Apa sih)

  3. bukan lo aja ko yang mikir gitu. gue juga ga sepenuhnya nyalahin malaysia dan dukung indonesia. dan gue tau gue bukan pembangkang. pers terlalu melebih2kan. topix.net emang dari dulu tempat malaysia dan indonesia saling ngata2in, dari mulai ngatain presiden masing2, monumen masing2, dll. jadi sebetulnya plesetan lagu Indonesia Raya bukan hal besar di sana. cuma mungkin pers baru tau dan nganggep itu masalah besar.

    dan, 1 lagi yang orang2 salah persepsi, orang2 yang ngata2in di sana biasanya orang2 yang numpang lewat doang, dan intelektualnya rendah (bisa diliat dari bahasa mereka past post reply, beda sama orang intelek yang pake jawaban logis dan cerdas). kalo petinggi2 forum di sana, walaupun sering ngata2in juga, pas idul adha mereka juga bikin thread maaf2an ko dan kita maaf2an di sana🙂

  4. sama seperti ucapan gw ke rani, tulisan lo benar2 inspiratif. memang agak sulit menghilangkan konflik yg berkepanjangan. jadi kita sebagai warga negara Indonesia harus lebih bisa menahan diri dan memahami permasalahan 2 bangsa ya (katanya) serumpun.

  5. semoga kita tidak terperengkap dengan provokator2, kita semua sama seagama,kita hanya dipisahkan leh penjajah inggeris & belanda, serumpun, jangan disebabkan segelintir kita berbunuhan, yg suka jika kita berpecah dan berperang ialah zionis dan sekutunya,,buang yg keruh ambil yg jernih, saya mencadangkan afar dialog peradaban budaya diadakan oleh pemerintah kedua2 negara, disamping itu media massa juga harus mempermainkan peranan menyokong bukan mengeruhkan.
    Bagi saya kedua negara ada kesilapam tersendiri…
    anyway salam lebaran dari saya.PEACE

  6. tapi kelihatannya tulisan ini terlalu egois dan mementingkan diri sendiri. takut kalau cita2 gagal untuk kuliah dengan nyaman di malaysia kan? apakah sedemikian buruknya kuliah di Indonesia?
    malaysia terlihat tdk tahu masalah ini karena kebebasan mereka mengakses informasi dihambat oleh pemerintah di sana. artinya itu malah buruk, sesuatu yang salah malah menjadi tidak terlihat.ingat lho kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan indonesia sering terjadi di malaysia, dan warga indonesia seringkali diangkat warga kelas rendah. beruntunglah kamu masih diperlakukan bersahabat dan tidak bertemu dgn yg lainnya. saya setuju tidak semuanya buruk di malaysia.tapi beberapa fakta juga bicara kan? comment ini lebih melihat dari sedikit sisi nasionalisme, hak dan kesetaraan manusia.

  7. tapi bukankah berarti juga beberapa fakta soal kebaikan orang Malaysia malah terkesan tersembunyi dan tidak terlihat. Media kebanyakan mengumbar sisi negatif. Lagipula saya tekankan disini, bukan hanya saya saja yang mempunyai cita2. tapi banyak orang di luar sana, saya bukan mau bilang bahwa kuliah di Indonesia itu buruk, tapi fakta membuktikan bahwa perbankan syariah di malaysia itu lebih baik. saya akan menimba ilmu di sana dan membangun Indonesia dengan ilmu yang saya punya….

  8. Salam,
    kita serumpun dan seiman.
    Jangan kita jadi seperti kambing-kambing ternakan yang hanya bersatu mengikut padang rumput tempat ia berpijak, yang jumud pemikirannya hanya kerana dipisahkan oleh pagar-pagar.
    Aqidah telah lama menyatukan kita.
    Usah biarkan diri jadi mangsa keadaan dan perpecahan.
    Kita umat yang bersaudara dan lebih mulia dari semua itu.
    Dan kita yang faham semua ini, harus juga menyedarkan yang lain inshaAllah =)

  9. salam..
    ya saya setuju setiap perkataan aya..
    usah la diperbesar-besarkan masalah diantara dua negara ini..
    kita serumpun..malah seagama..
    mengenai masalah rakyat indonesia di malaysia..saya juga bersimpati..
    malah rakyat malaysia sendiri juga marah atas majikan-majikan yang tidak bertimbang rasa terhadap pembantu rumah mereka..atau pun pekerja mereka..
    kamu juga harus ingat…ramai juga pekerja2 indonesia yang datang di malaysia, sangat gembira.. jangan lah disebabkan masalah tersebut membuat kan kamu membenci seluruh rakyat malaysia..

    saya juga benci dengan semua rakyat malaysia suka berprovokasi..dan bencikan penyatuan antara kita..malah samaada yang berpelajaran atau tidak..mereka suka mengeluarkan kata-kata kesat.

    saya sebagai salah seorang rakyat Malaysia berharap..kita semua sepakat..tidak menambahkan lagi sengketa sesama kita..
    biarkan sahaja mereka yang tidak punya moral..
    yang penting kita sendiri faham..dan tahu apa itu persahabatan..

    insyaallah..kita semua akan dilindungi-NYA..amin…

  10. perkara ini mnjadi besar apabila terdapat segelintir yg sering membesarkan perkara kecil…dari segi psikologinya seorang mampu bermain dengan minda 3 orang yang lain..3 orang pula mampu bermain dgn minda 12 orang yang lain..maka terhasillah konflik ini ditambah pula dengan media yang sering mengapi-apikan sebelah pihak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s