May

Pada awal-awal masa menganggur di rumah dan tidak ada kerjaan sama sekali karena masih harus menunggu pengumuman Ujian Nasional, gw memanfaatkan waktu untuk pergi menonton film di bioskop. Pada awalnya sih gak ada perencanaan sama sekali karena niatnya pergi ke Mall Kelapa Gading hanya untuk mengantarkan majalah yang berisi informasi tentang Universitas-Universitas di Malaysia kepada salah seorang teman gw yang bernama Vania yang kebetulan akhir bulan ini mau berangkat ke Malaysia buat kuliah di Universitas Utara Malaysia(UUM). Gw cuma ketemu dia bentar, masalahnya dia udah mesti ngajar di ILP. Sebelum dia datang, gw udah beli tiket film May. Kenapa gw memilih film itu? Karena gw tertarik dengan temanya yang menceritakan tentang kerusuhan 13 Mei 1998.

Nonton di Kelapa Gading 21, bukan XXI murah banget. Cuma 10 ribu rupiah, jadi kalaupun filmnya gak bagus-bagus amat ya gak rugi lah. Penonton film May sedikit banget, dibandingkan dengan film Lost In Love. Sepertinya cerita cinta remaja yang gak penting lebih digemari dibandingkan film berbau kejadian penting di negara ini. Selain itu, salah satu pemeran Lost In Love adalah teman SD gw selama di Al-Azhar Kemang Pratama, Pevita. Rada males juga deh jadinya.

Penonton film May bisa dihitung dengan jari, gw cuma sendirian dan duduk dengan tenangnya tanpa popcorn ataupun soda karena duit udah kepepet. Permulaan film agak sedikit membingungkan karena film tersebut menggunakan alur campuran. Jadi kejadian pada saat ini sama masa lalu dicampur-campur gitu. Secara keseluruhan ceritanya bisa dibilang lumayan dan gak jelek-jelek amat. Walaupun gw gak bisa bilang bagus banget juga.

Ceritanya tentang seorang wanita Tionghoa yang pada tahun 1998 menjalani hubungan dengan lelaki pribumi. Pada saat terjadinya kerusuhan tersebut May bermaksud untuk mengikuti casting pada sebuah tempat. Walaupun ibunya sudah mengingatkan akan adanya kerusuhan tetapi dia tetap tidak bergeming dan tetap menuju tempat casting. Pada awalnya ia akan diantar oleh Ares, sang kekasih namun karena suatu urusan tidak dapat diantarkan. Ketika ia sudah berada di tempat casting, selang beberapa lama kemudian tempat tersebut riuh rendah karena para penjarah sudah mendekati tempat itu. Semuanya tak terkendali lagi, bom molotov terlemparkan dan ia melarikan diri entah kemana. Ibunya dipaksa mengungsi oleh salah satu anggota keluarga ke tempat lain. Akhirnya dengan menggadaikan rumahnya ia mendapatkan tiket pesawat ke Malaysia. Semua orang rela menjual harta bendanya demi mengungsi. Dengan perasaan berat ibunya berangkat ke Malaysia. Ternyata May pun ditolong oleh seseorang dan berangkat juga ke Malaysia, tapi tidak pada tempat yang sama dengan ibunya. Ia melahirkan seorang anak dari hubungannya dengan Ares, ia tidak mengurus anak tersebut. Ia tidak bisa melakukannya. Kemudian ia memutuskan untuk menjadi seorang penyanyi club. Ternyata Ares pun bekerja di Malaysia pada kemudian hari. Seseorang yang mendapatkan rumah ibu May, bernama Pak Gandar bertemu dengan ibu itu. Ibu itu terlihat tidak ada semangat dan bagaikan orang bingung. Ia bekerja di sebuah restoran pinggir jalan di Melaka. Pak Gandar merasa bersalah karena telah mengambil rumah tersebut dan menukarnya dengan sebuah tiket pesawat. Ia merasa hidupnya berkecukupan sementara ibu itu hidup sengsara. Ia berniat mengembalikan semuanya kepada ibu tersebut. Bagaimana jalan cerita selanjutnya hingga May, Ares, Ibu, dan Anak May serta Ares dapat bersatu kembali di Jakarta? Mendingan nonton sendiri biar puas. Hehe.

4 thoughts on “May

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s