Kepergian Sang Jendral Besar

Kepergian seseorang dari dunia ini bukanlah hal yang aneh. Semua orang suatu saat akan meninggalkan dunia ini dan orang-orang yang mencintainya pun akan berdoa untuknya. Mungkin hanya beberapa orang yang mengenalnya yang akan berdoa untuknya. Dan orang yang tidak mengenalnya seakan tidak peduli akan siapa yang telah meninggal dan hanya bisa mengucapkan“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” ketika melihat bendera kuning berkibar di sebuah sudut komplek perumahan.

Hal ini sangat terlihat berbeda ketika seorang tokoh nasional yang sudah cukup mendunia meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Seluruh orang bersimpati akan kematiannya, televisi tak henti-hentinya menayangkan berita kematian sang tokoh, serta seluruh lapisan masyarakat mendoakannya(sekalipun tidak mengenalnya dan hanya mengetahuinya melewati media massa). Semua itulah yang berlaku ketika seorang Jendral Besar H.M. Soeharto meninggal. Indonesia berduka, pemerintah menetapkan satu minggu penuh sebagai hari berkabung nasional. Bendera merah putih berkibar setengah tiang, ikut bersedih atas kematian putra terbaik yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Putra yang telah berjuang untuk memerdekakan negara Indonesia yang kita cintai dari penjajah dan menghentikan segala macam bentuk pemberontakan dari dalam diri bangsa ini.

“The Smiling General” kini telah pergi. Walaupun segala kontroversi atas kasus korupsi yang dituduhkan kepadanya masih saja bergejolak, bangsa Indonesia tetap bersedih akan kepergiannya. Banyak orang yang menghujat, banyak pula orang yang mengaguminya. Komentar pedas masih banyak yang terlontar dari mulut bangsa Indonesia, namun pujian akan segala jasanya juga tak berhenti mengalir dari derai kata-kata bangsa yang pernah ia satukan dan merdekakakan ini. Pro dan kontra menjadi hal yang sangat biasa dalam berpendapat dan menilai seseorang.

Iring-iringan jenazah menuju bandara Halim Perdanakusuma menjadi sebuah hal yang tidak dapat terlewatkan oleh masyarakat.  Jalan yang biasanya dipadati oleh mobil-mobil pribadi dan umum, kini dipadati oleh sekerumunan orang yang ingin melihat pahlawan bangsanya. Tidak hanya di Jakarta, Solo pun menjadi lautan manusia yang menunggu kedatangan jenazah sang pemimpin. Mereka ingin mengantar kepergian seseorang yang pernah menjadi pemimpin selama lebih kurang 30 tahun negara Indonesia ini. Pemimpin yang pada masa jabatannya harus menerima kritikan pedas dari mahasiswa dan terpaksa mundur dari jabatannya, dan disitulah dimulainya reformasi. Reformasi yang hingga 10 tahun ini belum juga mencapai suatu hal yang memuaskan. Masih bergerak statis di suatu tempat, apabila ada perubahan hanyalah perubahan kecil yang tak terlalu terlihat perkembangannya.

Terima kasih Pak Harto, jasa mu akan selalu kami kenang dalam hati dan akan kami bagi segala ceritamu kepada anak cucu kami. Bahwa mereka mempunyai seorang pemimpin yang merupakan putra bangsa terbaik yang pernah dimiliki Indonesia!

3 thoughts on “Kepergian Sang Jendral Besar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s