Wartawan Jadi Caleg

8 10 2008

Semalam saya menonton tayangan di Metro TV yang memang biasanya saya tonton di hari Selasa. Today’s Dialogue, kali ini temanya sangat menarik: Wartawan Jadi Caleg. Berhubung saya sangat tertarik dengan dunia jurnalistik, maka dari itu saya rela tidak tidur hingga larut malam hanya untuk menonton tayangan tersebut sampai habis. Alasan lain adalah karena ada salah seorang idola saya, Meutya Hafid. Read the rest of this entry »





Pentingnya Menonton Berita

10 01 2008

Berita adalah sumber informasi yang sangat penting untuk kehidupan. Berita itu sangat penting untuk ditonton. Dibandingkan dengan menonton sinetron yang hanya mengumbar kekejaman, kesedihan, dan cerita cinta yang memuakkan untuk ditonton. Ada beberapa orang yang menonton sinetron untuk melihat para bintangnya yang tampan maupun cantik. Gw pikir ini bisa juga dijadikan alasan untuk memulai menonton berita. Kenapa begitu? Sepertinya News Anchor sekarang ini tampan-tampan dan juga cantik-cantik. Dimulai dari alasan itu, pasti kita mau tidak mau akan menonton berita. Lo coba aja gak nonton berita satu hari. Pasti lo akan merasa udah ketinggalan zaman dalam satu hari itu. Ketika orang membicarakan perkembangan yang terjadi di dunia, lo cuma bisa terdiam tanpa bisa mengikuti jalannya pembicaraan. Hanya bisa mendengar dan terkadang untuk menutupi ketidaktahuan itu lo akan mulai sok tahu, dan akhirnya akan malu sendiri karena apa yang lo bilang itu salah. Sama sekali tidak ada ruginya kalo lo menonton berita. Keuntungan yang banyak pasti akan didapatkan. Kalau dipikir-pikir berita isinya memang tidak jauh dari politik, politik, dan politik. Tapi kalau ditelusuri dengan adanya News Anchor yang membawakan semua berita itu dengan sedikit lebih santai dan jauh lebih menarik pasti berita itu akan menjadi berita yang menyenangkan untuk ditonton. Dari berita kita juga bisa mulai belajar tentang penggunaan kata-kata yang agak sulit untuk dimengerti. Bagaimana caranya? Dengan hanya menyaksikan berita itu dan memahami arah pembicaraannya, pasti kita akan mengerti apa arti daripada kosa kata yang sulit dimengerti itu. Berita itu jauh lebih menarik dan lebih mendidik dibandingkan dengan menonton sinetron, infotaiment, ataupun talkshow yang bisa dibilang kurang mendidik. Terlebih lagi jika kita menonton televisi bersama dengan anak kecil. Jika anak kecil dibiarkan menonton sinetron yang penuh dengan kekejaman, pelajaran yang tertanam dalam otaknya pun tidak lah baik untuk kedepannya nanti. Apakah anda bisa bayangkan? Jika seorang anak kecil menjadi sorotan media karena ia telah mencekik temannya dikarenakan menonton sinetron dengan adegan seperti itu. Akan sangat sulit untuk diterima dan akibatnya merugikan berbagai pihak. Mulai dari kecil, anak-anak pun perlu diajarkan untuk menonton berita. Dimulai dengan berita yang ringan dan masih bisa ia mengerti.





Idola!

5 01 2008

Semua orang pasti punya idola. Idola sering kali dijadiin panutan buat gaya hidup. Baik dari segi fashion, sifat, gaya berbicara, dll. Kebanyakan sih yang diidolakan adalah penyanyi dalam negri dan luar negri ataupun artis yang akting nya sering tampil di layar kaca maupun layar lebar. Jangan heran kalau fans-fans mereka sampai rela mengelurkan uang yang banyak hanya untuk bertemu dengan idolanya, atau hanya sekedar mengumpulkan berbagai foto mereka di  media cetak dan benda-benda apapun yang berhubungan dengan idola mereka. Semua itu lebih banyak dikarenakan idola mereka tersebut tampan, cantik, mempunyai kualitas musik yang bagus, dll. Namun jarang sekali yang mengidolakan seseorang karena sifat mereka dan prestasi yang telah mereka capai. Padahal kalo cuma soal tampang sama suara doank sih, gak perlu dijadiin idola yang sampe bener-bener jadi panutan. Kalo misalnya orang itu punya sifat dan prestasi yang bener-bener bagus, kenapa gak kita jadiin idola? dan jadiin dia sebagai panutan kita buat ngejalanin hidup yang terkenal jahat ini. Apalagi tinggal di ibukota yang katanya lebih jahat daripada ibu tiri. Sifat dan prestasi itu bener-bener kita butuhin kalo mau diakuin di dunia ini. Kalo menurut pandangan gw, orang-orang yang berwawasan luas, pinter, punya banyak pengalaman dan juga banyak prestasi bener-bener cocok buat dijadiin idola. Kalo sosok idola menurut gw ya kayak begitu. Idola gw sendiri itu, Meutya Hafid ama Najwa Shihab. Gak perlu gw jelasin lagi apa aja pengalaman mereka dan apa aja prestasi mereka. Tanpa harus gw jelaskan, semuanya itu udah jelas di depan mata. Bukan cuma mereka, gw juga mengidolakan para pasukan pergerakan yang tetep terus berjuang melawan Amerika Serikat di Irak. Mereka tetep gigih berjuang untuk bener-bener memerdekakan agama dan negara mereka dari para pengganggu.





168 Jam dalam Sandera

5 01 2008

“This book makes me crazy!”. Kata-kata itu emang yang paling cocok buat buku yang satu ini. Setelah gw baca semua isinya, sedikit demi sedikit buku ini ngubah hidup gw. Dan gw seakan mau gila kalo buku ini sampe ilang. Buku ini menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh si pengarangnya yang udah gak asing lagi namanya di telinga kita. Siapa lagi kalo bukan Meutya Viada Hafid yang hampir setiap hari membawakan berita di Metro TV dengan gayanya yang khas. Kejadian apa? Kejadian dimana dia dan rekan kerjanya, Budiantomenjadi sandera pasukan pergerakan di Irak yang menamakan diri mereka Jaish Al-Mujahideen. Buku ini menceritakan tentang detail-detail kejadian demi kejadian yang ia alami sebelum hingga pembebasan dari penyanderaan. Lebih dari itu semua, buku ini sendiri juga ngajarin gw tentang pentingnya berserah ke Allah SWT. Buku ini mengingatkan kita bahwa apa yang selama ini kita punya di dunia gak akan bisa membantu kita keluar dari suatu masalah, hanya dengan berdoa dan berserah sama Tuhan yang bisa membuat kita keluar dari masalah tersebut. Dan bukan cuma itu doank, buku ini juga mengajarkan banyak hal buat orang-orang yang tertarik ama jurnalistik. Kayak gw ini salah satunya, hehe! Kenapa begitu? Karena…..buku ini ngasih tau sama orang yang baru mau jadi wartawan dan yang udah jadi wartawan buat tau, ”Kapan Harus Berhenti” buat nyari berita, karena “Tidak ada berita yang nilainya lebih daripada nyawa”. Eh, daripada gw nyeritain secara garis besarnya doank, mendingan sekarang gw nyeritain tentang bagian-bagian cerita paling menarik dari buku ini. Kalo menurut gw sendiri sih, ampir semua bagian dari buku ini menarik. Masalahnya, si Penulis yang gak laen adalah idola gw sendiri(Meutya Hafid) bisa menceritakan dengan sangat baik. Sampe-sampe gw sendiri ngerasa kalo lagi berada di dalam situasi itu. Ikutan tegang, sedih, gembira, dll. Bagian dimana dia menceritakan tentang hari-hari sebelum ayahnya meninggal, bener-bener bikin gw sedih dan ikut merasakan kesedihannya. Pas dia nyeritain tentang program beasiswa yang dia dapetin, buat memicu semangat gw yang pengen dapetin beasiswa. Masa-masa kecilnya dia juga asik banget buat dibaca, lucu men! Waktu dia dikibulin ama penyanderanya juga asik banget buat dibaca. Penyandera nembakin senjatanya, seolah-olah kayak dia lagi nembakin budianto sama supir yang selama ini nemenin perjalanan mereka di Irak. Tapi ternyata, itu cuma kerjaan si penyandera buat nakut-nakutin sang Penulis ini. Wah kurang ajar lo men, nakut-nakutin idola gw aja. haha! Udah ah, daripada gw kepanjangan cerita isinya buku ini. Mendingan lo beli sendiri, harganya cuma Rp 44.000,00 doank. Buat buku yang sebagus dan setebel ini sih, termasuk murah. Cepetan beli, kalo gak ntar nyesel!