
Semalam saya menonton tayangan di Metro TV yang memang biasanya saya tonton di hari Selasa. Today’s Dialogue, kali ini temanya sangat menarik: Wartawan Jadi Caleg. Berhubung saya sangat tertarik dengan dunia jurnalistik, maka dari itu saya rela tidak tidur hingga larut malam hanya untuk menonton tayangan tersebut sampai habis. Alasan lain adalah karena ada salah seorang idola saya, Meutya Hafid.
Memang saya sudah tidak asing lagi mendengar bahwa seorang Meutya Hafid akan menjadi Calon Legislatif dari Daerah Pemilihan Sumatra Utara. Suatu saat ketika sedang browsing berita tentang Meutya Hafid di rumah mr. Google, saya melihat sebuah artikel dari surat kabar tempatan di Sumatra Utara bahwa Meutya Hafid akan menjadi Calon Legislatif dari partai Golkar. Awalnya saya agak terkejut juga, tapi rasanya hal tersebut bukan sebuah hal yang aneh. Meutya Hafid adalah seorang jurnalis, jurnalis sudah akrab sekali dengan pemerintahan dan juga sangat akrab dengan masyarakat luas. Jadi kalau dicerna lebih lanjut, pengalihan kerja dari Jurnalis menjadi seorang politisi tidak terlalu jauh. Jurnalis biasa mengkritisi kinerja pemerintahan dan jika seorang jurnalis akan menjadi anggota legislatif, bisa belajar dari apa yang telah dikritisi dan apa yang telah diketahui dari masyarakat tentang apa yang diinginkan oleh masyarakat.
Semalam saya lihat tokoh-tokoh jurnalistik sekaliber Teguh Juwarno, Hamid Basyaib, dan Meutya Hafid menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh Kania Sutisnawinata, serta Arya Bima yang merupakan perwakilan dari The Lead Institute. Perbincangan berlangsung seru, pertanyaan mulai dari masalah pemilihan partai politik hingga jika tidak terpilih menjadi anggota legislatif meluncur dari mulut sang presenter. Jawaban-jawabannya pun cukup menarik. Masing-masing mengeluarkan jawaban yang berbeda-beda. Kebanyakan saya lebih terfokus kepada Meutya Hafid. Saya lihat Meutya Hafid sudah sangat mantap dan yakin dengan keputusannya. Sehingga ketika diharuskan menjawab pertanyaan yang sulit pun sudah tidak ragu-ragu lagi dan pandai dalam menjawabnya. Mungkin itupun terbantu karena sebenarnya, biasanya ialah yang duduk sebagai presenter dan bertanya kepada narasumber. Jawaban-jawaban narasumber bisa dijadikan sebagai bahan pelajaran.
Saya tertarik dengan perkataan Meutya Hafid, intinya seperti ini, tidak begitu sama namun inilah yang bisa saya tangkap. Saya sebagai jurnalis biasa menunjuk dengan salah satu jari saya, namun pada saat itu juga lebih banyak jari yang menunjuk kepada saya. Saya biasa mengkritisi pemerintahan, dan saya ingin menjalankan fungsi jari-jari yang lain yaitu sebagai anggota pemerintahan yang dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Sebenarnya saya tidak begitu yakin perkataanya sama persis, tapi beginilah inti yang saya suka dari perkataannya.

Saya rasa jurnalis-jurnalis tersebut berpotensi besar untuk terpilih menjadi anggota DPR, Teguh Juwarno dari PAN, Meutya Hafid dari Golkar, dan Hamid Basyaib dari PDIP. Maka dari itu saya berharap kepada mereka agar benar-benar bisa menyampaikan aspirasi masyarakat yang selama ini telah didengarkan ataupun kedepannya.












terserah mereka aja, yang penting tugasnya yang diemban, berjalan!
hmm.. politik dimana2..
[mampir yaa..]
Wah gak heran tuh kalau jadi caleg golkar, lha wong bos Metro TV, Pak Surya Paloh kan penasehat golkar
BTW pembawa berita favorit saya Frida Lidwina
Meutya Hafid jadi caleg? Kalo ini sih mirip2 dikit dengan strategi artis jadi caleg, sama2 blm ada pengalaman politik praktis, namun menang popularitas
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
mohon Maaf Lahir dan Batin
pernah ada yang nawarin kemarin padaku jadi bacaleg
tapi aku belum merasa mampu
Nggak masalah sih, asal dia berhenti jadi wartawan…
)
hhmmmmmmmm…..semuanyah pengen jadih caleg yaks….
profesi wartawannyah harus dilepas tuch….
jurnalis metro TV berkualitas lah, jadi ga masalah juga kalo mereka mau jadi caleg..
semoga amanah akan tugsnya..
wahhh…kenapa nggak Andi F Noya ya?? biar di kick-kick tuh koruptor..uhuhuhuhuyyy…
mas kunjungin blog sy juga dong..hehehe…tukeran link yuukkk…
yaelah mending jadi apa kek yang laen daripada caleg, emang bagus banget ya kok sekarang lagi pada bondong2 pengen jadi caleg haha ga ngerti politik gue !
yang penting gak nganggur
weh, sama dunk. saya juga ngefans sama meutya hafid. mantap soalnya!! tapi kalo urusan jadi caleg sementara saya no komen dululah…
aya, main ke blogku yang baru. blom tahu kan?? hehe ditunggu
Hi Aya…there’s a task 4 u in my blog..have a look ya..
take care..ok lah tu…
hi i have added ur blog name in the “New friends” list which is at the extreme bottom of my blog.. check out and add my blog also(link back) thank u in advance..
wah.. lama ga maen kesini..
btw.. ada teguh juwarno juga?? dolo M ngefan ma diaaaa.. sayang M ga nonton…
wartawaann…oh wartawaaan……
artikel yang lumayan menarik…. semoga wartawan yang jadi caleg tetap kritis dalam menyikapi kondisi bangas ini. Amin
wah hebat juga ya mba Meutya…
eh ya, lo gue kasih tugas, kalo ngga keberatan kerjain yaah, makasih..hehe
oya lupa, tugasnya ada di postingan gue ~~”
Tapi kenapa harus GOLKAR?
Meutya Hafid yang cerdas lebih pas di partai yang cerdas juga…
banyak orang bingung milih siapa, sebab caleg dari parpol banyak yang belum terkenal di masyarakat, akhirnya dari pada pusing pilih wartawan aja, sebab wajahnya sudah dikenal. maka wartawan kemungkinan banyak yang berhasil jadi caleg. kalau semua wartawan jadi caleg, siapa yang gantiin?
whew….. great writings………….
bukan hanya wartawan aja gan yang mau jadi caleg, bahkan para pengurus pondok pesantren juga ada yang ingin jadi caleg. justru hal seperti inilah yang patut dikhawatirkan di saat para ulama mau menjadi caleg yang lebih terhormat dan banyak uang….lantas mau kemana nanti umatnya di bawa ???
karepe wis…..pokoknya saya nanti ndak akan milih caleg yang ada embel-embel agama..biar kyai, ulama, …mending milih yang memang kerjaanya memang seharusnya di bidangnya..peace