Hari ini, banyak sekali kegiatan yang aku lakukan. Mulai dari pendalaman materi yang menjadi rutinitas tiap minggu, foto angkatan buku tahunan amat melelahkan, dan juga menonton film Ayat-Ayat Cinta bersama beberapa teman di tempat kursus ILP. Kami sudah merencanakan sejak satu minggu film ini belum ditayangkan. Aku sungguh penasaran, setelah membaca lembar demi lembar buku itu. Aku ingin melihatnya dalam bentuk visual, menurutku buku tersebut tidak sebegitu bagusnya seperti kata orang-orang bilang. Secara keseluruhan memang bagus, namun hanya sebatas itu. Tidak lebih dan tidak kurang pula.
Kami sudah memesan tiket satu hari sebelumnya, kami memesan melalui kerabat salah seorang temanku. Begitu film akan dimulai, aku mendengar suatu hal yang begitu mengejutkan. Kami semua menonton pukul 3.10 sore, dan ternyata tiket jam 5 sudah ludes terjual. Ketika film selesai pun tiket sampai jam 9 malam sudah penuh terpesan.
Film berlangsung cukup seru, walaupun alur ceritanya sedikit berbeda dibandingkan dengan bukunya. Menurutku, film tersebut sangat menarik dan bagus, film Indonesia lain belum tentu semenarik film ini. Lumayan banyak penonton yang berurai air mata, terisak melihat beberapa bagian film tersebut. Aku memang tidak menangis, namun hati ini rasanya tetap sedih. Begitu menyentuh hati.
Dari cerita Ayat-Ayat Cinta, baik film maupun bukunya tokoh yang paling menarik bagiku adalah Maria Girgis. Sesosok wanita cantik Mesir yang beragama kristen koptik, namun begitu tertarik dengan Islam dan dalam hatinya begitu mencintai Islam. Dalam bukunya, ketika menjelang ajalnya ia terus mengucapkan Aku ingin Allah. Hati ini begitu tersentuh, dalam filmnya pun ketika ia meminta untuk sholat bersama dengan Aisha dan Fahri, dan kemudian meninggal dalam sholatnya. Aku begitu sedih. Jarang sekali dapat ditemui orang yang seperti itu.
Mungkin Film dan bukunya tidak persis sama. Tetapi semua itu adalah hal yang biasa dan tidak dapat dihindari. Jika di buku kita diajak untuk berimajinasi, sedangkan dalam film kita diajak untuk menikmati keindahan-keindahan yang terdapat di dalamnya. Pemandangan Mesir yang diperlihatkan pun begitu indah, ingin sekali aku pergi ke sana. Mungkin jika kuliah nanti, selain ke Singapura aku akan mencari beasiswa Al-Azhar Cairo-Mesir. Basic Al-Azhar lumayan aku miliki. Sejak TK hingga SD kelas 4 aku menghabiskan waktu di Al-Azhar.
Untuk film maupun bukunya, aku hanya dapat berkata bagus. Walaupun dalam film ini, akting Fedi Nuril(Fahri) tidak begitu bagus, semua itu ditutupi oleh kehebatan akting Carissa Putri(Maria Girgis) dan Rianty Cartwright(Aisha) yang begitu menyentuh hati. Aku pun mulai terinspirasi untuk menulis cerita, kecintaanku terhadap buku bacaan memunculkan minat untuk menulis. Ingin aku menjual hasil tulisanku jika sudah selesai nanti, memberi tahu kepada orang lain hasil karyaku. Amien!











Amin…
Saya ingin membeli bukunya Aya nanti kalo sudah ada,
Kasih info ya…
Eh.. saya gemar sekali dengan novel AAC…. selalu senang membaca resensi filmnya.. soalnya disini gak ada bioskop…
sebenarnya tidak baik untuk menonton bajakan, tapi di youtube tinggal cari ayat2 cinta. dan akan muncul edisi penuh ayat2 cinta pada salah satu profile(bajakan)
AYA MASA GUE GAJADI NONTON AYATAYATCINTA HUHU
heboh bgt emang ya nni film,, saiia belum juga sempat nonton,, pengen nonton di 21 masih rame bgt,, hihihi,,
nunggu sepi ahhh,,
wah, susah tuh kalo nunggu sepi. rame terus kayaknya. kalo sepi juga kalo udah lama banget mungkin. haha!
sedih banget terakhirnya,
jadi terharu…
sebioskop nangis semua, kata errander..
emang sedih banget akhirnya, maria meninggal dalam sholatnya. dia masuk islam pas nikah sama fahri, dua bagian yang menyentuh hati dalam film tersebut.
saya belum nonton,,,,
padahal sudah banyak sekali yang bilang pelem ini bagus,,,
hmm,,
jadi inget bung gito rollies..
betul sekali. ada suara almarhum di dalam film trsbt.
krn banyaknya protes krn film ini tdk selengkap bukunya, akhirnya mas Hanung buka mulut, dia bilang film yang bagus bukan berarti film yang memuat lengkap dari bukunya, namun film yang emosinya bisa mengena dalam hati penonton, begitchuu. gue bilang film ini udah hebat banget bisa dibikin, krn setau saya proses pembuatannya sangat sulit. namun itu semua terbayar ko dengan antusiasme masyarakat terhadap film ini ^^.
bagus kok. kalo mau selengkap bukunya juga mau berapa jam? tiga jam baru selesai kli. itu film udah bagus banget kok.
“Basic Al-Azhar lumayan aku miliki. Sejak TK hingga SD kelas 4 aku menghabiskan waktu di Al-Azhar”. Yup, kuliah juga Al-Azhar… amiin
Saya setuju, walo banyak yang kecewa dan menghujat ilm ini tapi memang ilm ini bagus… dan tidak bisa dipungkiri, menyamai novel AAC bang Abik pastilah sulit mengingat novel tersebut sangat fenomenal dan luar biasa!
Salam
baca bukunya sekitar 4 taon lalu.
bagus banget walopun sosok fahri kagak mungkin ada di kehidupan nyata…
hmmm…
pengen nonton, biarpun bnyk yg bilang ga sesuai bukunya.
hmm… nunggu temen yg ngajakin… coz kalo nonton sendirian garing…
terima kasih atas komentar anda di blog Koran Saya.
film AAC memang fenomenal, produsernya memang hebat.
>Koran Saya: betul sekali.
Ay, best bener blog loe…
Salut gw…
Mm, tuker link yuq…